Echinodermata (hewan berkulit duri)
Merupakan binatang triploblastik selopmata, tubuh simetris radial yang terbagi menjadi 5 bagian, umumnya mempunyai duri, saluran pencernaan sempurna meski anus pada sebagian Echinodermata tidak berfungsi, hidup di laut, gerakan lambat dengan kaki pembuluh (ambulakral) yang terjadi dengan mengubah tekanan air yang diatur oleh sistem pembuluh air yang
Pages - Menu
▼
Pages
▼
Kamis, 31 Desember 2009
Mollusca (hewan bertubuh lunak)
Mollusca (hewan bertubuh lunak)
Tubuh lunak terbungkus oleh cangkang yang mengandung zat kapur atau tidak bercangkang. Bersifat triploblastik dan mempunyai matel yang berfungsi menutupi organ-organ viseral dan membuat rongga mantel.
Alat gerak berupa kaki yang berfungsi untuk merayap dan menangkap mangsanya. Sudah memiliki sistem pencernaan, syaraf, ekskresi, otot dan reproduksi.
Mollusca
Tubuh lunak terbungkus oleh cangkang yang mengandung zat kapur atau tidak bercangkang. Bersifat triploblastik dan mempunyai matel yang berfungsi menutupi organ-organ viseral dan membuat rongga mantel.
Alat gerak berupa kaki yang berfungsi untuk merayap dan menangkap mangsanya. Sudah memiliki sistem pencernaan, syaraf, ekskresi, otot dan reproduksi.
Mollusca
Perkembangan FDI di Indonesia
Perkembangan FDI di Indonesia
Spoiler for FDI oleh Unilever:
Kedatangan Unilever di Indonesia berawal pada 5 Desember 1933. Kini, Unilever telah sukses menjadi salah satu perusahaan raksasa di Indonesia. Unilever menjadikan Indonesia sebagai salah satu production base terbesar di Asia. Tetapi, Unilever mematikan pesaing dari kalangan pengusaha nasional dengan cara mengakuisisi sejumlah besar
Spoiler for FDI oleh Unilever:
Kedatangan Unilever di Indonesia berawal pada 5 Desember 1933. Kini, Unilever telah sukses menjadi salah satu perusahaan raksasa di Indonesia. Unilever menjadikan Indonesia sebagai salah satu production base terbesar di Asia. Tetapi, Unilever mematikan pesaing dari kalangan pengusaha nasional dengan cara mengakuisisi sejumlah besar
Minggu, 27 Desember 2009
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi adsorpsi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi adsorpsi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi suatu adsorben diantaranya adalah senagai berikut:
1.Luas permukaan adsorben
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak asorbat yang diserap, sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semaki kecil ukuran diameter partikel maka semakin luas permukaan adsorben.
2.Ukuran partikel
Makin
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi suatu adsorben diantaranya adalah senagai berikut:
1.Luas permukaan adsorben
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak asorbat yang diserap, sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semaki kecil ukuran diameter partikel maka semakin luas permukaan adsorben.
2.Ukuran partikel
Makin
Akad Jual Beli di Perbankan Syariah
Akad Jual Beli di Perbankan Syariah
Data statistik yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) mengenai laporan perkembangan perbankan syariah tahun 2004 menunjukkan sekitar 66,3 persen pembiayaan syariah menggunakan akad jual-beli. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia, Maulana Ibrahim Kendati mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 71,5 persen, hal itu bukan berarti peminat
Data statistik yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) mengenai laporan perkembangan perbankan syariah tahun 2004 menunjukkan sekitar 66,3 persen pembiayaan syariah menggunakan akad jual-beli. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia, Maulana Ibrahim Kendati mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 71,5 persen, hal itu bukan berarti peminat
Jumat, 25 Desember 2009
Ganggang Karang
Kelas Charophyceae/Ganggang Karang
Ganggang ini hanya terdiri atas beberapa marga saja. Sel-selnya mempunyai dinding selulosa, klorofil a dan b, dan zat tepung sebagai hasil asimilasi, dan merupakan zat makanan cadangan. Hidupnya di kolam-kolam atau selokan sebagai bentos. Habitusnya seperti tumbuhan yang seluruhnya hidup di dalam airTalus berbuku-buku dengan ruas-ruas yang panjang dengan
Kamis, 24 Desember 2009
Standar Perencanaan Proses Pembelajaran
Standar Perencanaan Proses Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran merupakan tahapan penting yang harus dilakukan guru sebelum mereka melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Oleh karena itu, ia harus dikerjakan secara sungguh-sungguh dan bukan hanya untuk memenuhi syarat administrasi akademik atau sekedar menyenangkan pengawas.
26 Mei 2009
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan
Perencanaan pembelajaran merupakan tahapan penting yang harus dilakukan guru sebelum mereka melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Oleh karena itu, ia harus dikerjakan secara sungguh-sungguh dan bukan hanya untuk memenuhi syarat administrasi akademik atau sekedar menyenangkan pengawas.
26 Mei 2009
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan
Rabu, 23 Desember 2009
Komponen RPP
Komponen RPP adalah :
1. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
2. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada
1. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
2. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada
Minggu, 20 Desember 2009
Pengertian Internet - Definisi Internet
Di bawah ini adalah daftar hasil pencarian di internet sesuai lewat google tentunya, dengan kata kunci yang Anda gunakan - Pengertian Internet , Klik pada judul hasil pencarian untuk membaca informasi lebih detail mengenai Pengertian Internet - Definisi Internet, Kata kunci yang mungkin terkait adalah: arti dari Internet, internet adalah, pengertian dari internet:
Pengertian Internet dan Intranet
Pengertian Internet dan Intranet
Sabtu, 19 Desember 2009
Contoh Judul Skripsi S1 Hukum Perdata
Contoh Judul Skripsi S1 Hukum Perdata
STATUS ANAK ANGKAT MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (Studi Kasus Tentang Pengesahan Anak Angkat dan Pembagian Harta Warisan)
PENGGUNAAN LAYANAN JASA BANK SAFE DEPOSIT BOX PADA BANK JATENG DAN PERMASALAHANNYA
PERAN POLRI DALAM PENANGANAN KECELAKAAN LALU-LINTAS TABRAK LARI DI WILAYAH HUKUM POLTABES YOGYAKARTA
PELAKSANAAN PEMINDAHTANGANAN IZIN PEMILIK KIOS
STATUS ANAK ANGKAT MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (Studi Kasus Tentang Pengesahan Anak Angkat dan Pembagian Harta Warisan)
PENGGUNAAN LAYANAN JASA BANK SAFE DEPOSIT BOX PADA BANK JATENG DAN PERMASALAHANNYA
PERAN POLRI DALAM PENANGANAN KECELAKAAN LALU-LINTAS TABRAK LARI DI WILAYAH HUKUM POLTABES YOGYAKARTA
PELAKSANAAN PEMINDAHTANGANAN IZIN PEMILIK KIOS
Tradisi Megalitik dalam Lintasan Prasejarah
Tradisi Megalitik dalam Lintasan Prasejarah
Timbulnya kebudayaan bersama-sama dengan adanya manusia pertama yang menggunakan akalnya. Sejarah kebudayaan meliputi waktu yang sama penjangnya dengan sejarah umat manusia, dari manusia yang pertama hingga waktu sekarang. Waktu yang panjang itu dalam sejarah manusia dibagi atas tiga zaman, yaitu zaman prasejarah, zaman protosejarah, dan zaman sejarah
Timbulnya kebudayaan bersama-sama dengan adanya manusia pertama yang menggunakan akalnya. Sejarah kebudayaan meliputi waktu yang sama penjangnya dengan sejarah umat manusia, dari manusia yang pertama hingga waktu sekarang. Waktu yang panjang itu dalam sejarah manusia dibagi atas tiga zaman, yaitu zaman prasejarah, zaman protosejarah, dan zaman sejarah
Jumat, 18 Desember 2009
Seni kontemporer
Seni kontemporer
Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi.Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi Seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang
Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi.Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi Seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang
Kamis, 17 Desember 2009
Sumber Energi untuk Gerak Otot
Sumber Energi untuk Gerak Otot
ATP (Adenosht Tri Phosphat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP.
ATP ---- ADP + P
Aktin + Miosin ------------------------- Aktomiosin
ATPase
Fosfokreatin merupakan
ATP (Adenosht Tri Phosphat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP.
ATP ---- ADP + P
Aktin + Miosin ------------------------- Aktomiosin
ATPase
Fosfokreatin merupakan
Mekanisme Gerak Otot
Mekanisme Gerak Otot
Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi sinar X, Hansen dan Huxly (l955) mengemukkan teori kontraksi otot yang disebut model sliding filaments.
Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan adanya dua set filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan filamen miosin.. Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin
Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi sinar X, Hansen dan Huxly (l955) mengemukkan teori kontraksi otot yang disebut model sliding filaments.
Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan adanya dua set filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan filamen miosin.. Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin
Jaringan Epithelium
Jaringan Epithelium
Merupakan jaringan penutupi atau melapisi permukaan tubuh organisme, baik lapisan luar atau lapisan dalam (endotelium).
Fungsi Jaringan Epithelium:
- absorpsi, sebagai alat penyerapan, ditemukan pada usus halus
- sekresi, sebagai alat penghasil zat atau cairan yang bermanfaat, ditemukan pada kelenjar buntu
- transport, sebagai alat pengangkutan, ditemukan pada
Merupakan jaringan penutupi atau melapisi permukaan tubuh organisme, baik lapisan luar atau lapisan dalam (endotelium).
Fungsi Jaringan Epithelium:
- absorpsi, sebagai alat penyerapan, ditemukan pada usus halus
- sekresi, sebagai alat penghasil zat atau cairan yang bermanfaat, ditemukan pada kelenjar buntu
- transport, sebagai alat pengangkutan, ditemukan pada
Jaringan Syaraf
Jaringan Syaraf
Jaringan berfungsi untuk mengatur dan mengkoordinasi segala aktivitas tubuh. Jaringan ini dibentuk oleh sel-sel syaraf yang disebut neuron.
Neuron dibedakan atas :
- dendrit : penjuluran keluar dari badan sel yang berfungsi membawa rangsangan ke badan sel.
- badan sel : bagian sel syaraf yang mengandung inti dengan nukleolus di tangahnya. Badan sel syaraf terletak di pusat
Jaringan berfungsi untuk mengatur dan mengkoordinasi segala aktivitas tubuh. Jaringan ini dibentuk oleh sel-sel syaraf yang disebut neuron.
Neuron dibedakan atas :
- dendrit : penjuluran keluar dari badan sel yang berfungsi membawa rangsangan ke badan sel.
- badan sel : bagian sel syaraf yang mengandung inti dengan nukleolus di tangahnya. Badan sel syaraf terletak di pusat
Kelainan pada Otot
Kelainan pada Otot
Kelainan pada otot dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
a. Atrofi
Atrofi merupakan suatu keadaan mengecilnya otot sehingga kehilangan kemampuan berkontraksi.
b. Kelelahan Otot
Kelelahan otot terjadi karena terus menerus melakukan aktivitas, dan bila ini berlanjut dapat terjadi kram.
c. Tetanus
Tetanus adalah otot vang terus menerus berkontraksi (tonus
Kelainan pada otot dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
a. Atrofi
Atrofi merupakan suatu keadaan mengecilnya otot sehingga kehilangan kemampuan berkontraksi.
b. Kelelahan Otot
Kelelahan otot terjadi karena terus menerus melakukan aktivitas, dan bila ini berlanjut dapat terjadi kram.
c. Tetanus
Tetanus adalah otot vang terus menerus berkontraksi (tonus
Rabu, 16 Desember 2009
Fungsi Otot
Fungsi Otot
Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya otot berkontraksi bukan karena satu rangsangan, melainkan karena suatu rangkaian rangsangan berurutan.rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memeprkuat rangsangan kedua . dengan demikian terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum . tonus yang maksimum terus – menerus disebut tetanus.
Sifat
Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya otot berkontraksi bukan karena satu rangsangan, melainkan karena suatu rangkaian rangsangan berurutan.rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memeprkuat rangsangan kedua . dengan demikian terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum . tonus yang maksimum terus – menerus disebut tetanus.
Sifat
Jenis – Jenis Otot
Jenis – Jenis Otot
Berdasarkan bentuk morfologi, sistem kerja dan lokasinya dalam tubuh, otot dibedakan menjadi tiga, yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
a.Otot lurik (Otot Rangka)
Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja di bawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunvai jalur-jalur melintang gelap (anisotrop) dan terang (isotrop)
Berdasarkan bentuk morfologi, sistem kerja dan lokasinya dalam tubuh, otot dibedakan menjadi tiga, yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
a.Otot lurik (Otot Rangka)
Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja di bawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunvai jalur-jalur melintang gelap (anisotrop) dan terang (isotrop)
Senin, 14 Desember 2009
Pembelajaran Dengan Strategi Ekspositori
Pembelajaran Dengan Strategi Ekspositori
Perilaku mengajar dengan strategi ekspositori juga dinamakan model ekspositori.Model pengajaran ekspositori merupakan kegiatan mengajar yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan , dan nilai-nilai kepada
Perilaku mengajar dengan strategi ekspositori juga dinamakan model ekspositori.Model pengajaran ekspositori merupakan kegiatan mengajar yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan , dan nilai-nilai kepada
Minggu, 13 Desember 2009
Tipe Belajar Visual
Tipe Belajar Visual
Bagi siswa bertipe belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual). Dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak dititik beratkan pada peragaan media, ajak mereka ke objek – objek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut. Atau dengan cara menunjukan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan
Kamis, 10 Desember 2009
Bentuk dan Jenis Tulang
Bentuk dan Jenis Tulang
Tulang-tulang dalam tubuh manusia lebih kurang berjumlah 200 buah. Komponen – komponen penyusun tulang adalah air (25%), zat organic berupa serabut (30%), dan zat mineral terutama kalsium fosfat dan sedikit garam magnesium ( 45%).
Berdasarkan bentuknya, tulang dibedakan sebagai berikut:
1).Tulang Pipa (Tulang Panjang)
Tulang pipa berbentuk seperti tabung yang kedua
Tulang-tulang dalam tubuh manusia lebih kurang berjumlah 200 buah. Komponen – komponen penyusun tulang adalah air (25%), zat organic berupa serabut (30%), dan zat mineral terutama kalsium fosfat dan sedikit garam magnesium ( 45%).
Berdasarkan bentuknya, tulang dibedakan sebagai berikut:
1).Tulang Pipa (Tulang Panjang)
Tulang pipa berbentuk seperti tabung yang kedua
Rabu, 09 Desember 2009
Sejarah Datangnya Islam Di Indonesia
Sejarah Datangnya Islam Di Indonesia
Bilamana islam, baik sebagai agama maupun sebagai arus kebudayaanmula-mula memasuki Indonesia, tidak dapat dipastikan.
Di Leran (dekat gresik) terdapat sebuah batu bersurat dalam bahasa dan huruf Arab, yang sebagian telah rusak sama sekali tulisannya. Batu itu memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan, bernama Fatimah Binti Maimun, sangat
Bilamana islam, baik sebagai agama maupun sebagai arus kebudayaanmula-mula memasuki Indonesia, tidak dapat dipastikan.
Di Leran (dekat gresik) terdapat sebuah batu bersurat dalam bahasa dan huruf Arab, yang sebagian telah rusak sama sekali tulisannya. Batu itu memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan, bernama Fatimah Binti Maimun, sangat
Membuat Jaringan Wifi
Membuat Jaringan Wifi
Anda dapat membuat jaringan rumah atau kantor kecil tanpA menggunakan access point atau hub/router. Seperti halnya jaringan peerto-peer pada jaringan yang menggunakan NIC. Tidak hanya itu, jaringan peer-to-peer dengan Wi-Fi dapat dilakukan dengan lebih dari dua komputer dan dengan kecepatan yang jauh lebih besar.
Aktifkan Wi-Fi Anda
Langkah pertama yang paling penting
Anda dapat membuat jaringan rumah atau kantor kecil tanpA menggunakan access point atau hub/router. Seperti halnya jaringan peerto-peer pada jaringan yang menggunakan NIC. Tidak hanya itu, jaringan peer-to-peer dengan Wi-Fi dapat dilakukan dengan lebih dari dua komputer dan dengan kecepatan yang jauh lebih besar.
Aktifkan Wi-Fi Anda
Langkah pertama yang paling penting
Selasa, 08 Desember 2009
Contoh Judul Skripsi S1 Pendidikan Matematika
Type your summary here Contoh Judul Skripsi S1 Pendidikan Matematika
Berikut ini ada beberapa contoh judul Skripsi Pendidikan Matematika, semoga dapat menginspirasi teman-teman semua dalam menulis Skripsi.
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN INTERAKTIF SETTING KOOPERATIF (PISK) PADA LIMIT FUNGSI ALJABAR DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI
Type rest of the post here
SKRIPSI
Berikut ini ada beberapa contoh judul Skripsi Pendidikan Matematika, semoga dapat menginspirasi teman-teman semua dalam menulis Skripsi.
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN INTERAKTIF SETTING KOOPERATIF (PISK) PADA LIMIT FUNGSI ALJABAR DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI
Type rest of the post here
SKRIPSI
Contoh Judul Skripsi S1 Akuntansi
Contoh Judul Skripsi S1 Akuntansi
Berikut ini adalah contoh-contoh judul skripsi S1 Akutansi, semoga dapat menginspirasikan teman-teman semua untuk menulis skripsi, terimakasih:
PENERAPAN SISTEM PENJUALAN DAN PEMBELIAN DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS PADA PERUSAHAAN CV. “JATI BERSAMA” MALANG.
Type rest of the post here
PENERAPAN TAX PLANNING DALAM UPAYA
Berikut ini adalah contoh-contoh judul skripsi S1 Akutansi, semoga dapat menginspirasikan teman-teman semua untuk menulis skripsi, terimakasih:
PENERAPAN SISTEM PENJUALAN DAN PEMBELIAN DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS PADA PERUSAHAAN CV. “JATI BERSAMA” MALANG.
Type rest of the post here
PENERAPAN TAX PLANNING DALAM UPAYA
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Hewan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Hewan
Seperti halnya pada tumbuhan, pertumbuhan dan perkembangan hewan dan juga manuisa dipengaruhi oleh factor-faktor dalam (internal) dan factor-faktor luar (eksternal). Faktor Dalam meliputi gen dan hormon, sedangkan Faktor luar antara lain nutrisi dan aktivitas.
a).Gen
Gen merupakan faktor penentu sifat yang dibwa oleh orang tua.
Seperti halnya pada tumbuhan, pertumbuhan dan perkembangan hewan dan juga manuisa dipengaruhi oleh factor-faktor dalam (internal) dan factor-faktor luar (eksternal). Faktor Dalam meliputi gen dan hormon, sedangkan Faktor luar antara lain nutrisi dan aktivitas.
a).Gen
Gen merupakan faktor penentu sifat yang dibwa oleh orang tua.
Sabtu, 05 Desember 2009
Antropologi Sosial Budaya
Antropologi Sosial Budaya
Pada dasarnya Antropologi sosial merupakan perkembangan lebih lanjut dari antropologi budaya. Antropologi budaya memfokuskan kajiannya terhadap budaya umat manusia, sedangkan antropologi sosial mengkaji tentang masyarakat manusia. Berdasarkan ruang ingkup kajian tersebut , maka dapat dikatakan bahwa antropologi sosial bersumber dari ruang lingkup yang sama, karena
Pada dasarnya Antropologi sosial merupakan perkembangan lebih lanjut dari antropologi budaya. Antropologi budaya memfokuskan kajiannya terhadap budaya umat manusia, sedangkan antropologi sosial mengkaji tentang masyarakat manusia. Berdasarkan ruang ingkup kajian tersebut , maka dapat dikatakan bahwa antropologi sosial bersumber dari ruang lingkup yang sama, karena
Kamis, 03 Desember 2009
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMP KELAS 3
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMP
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : IX/ 1
Standar Kompetensi :
1. Memahami kesebangunan bangun datar dan penggunaannya dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar :
1.2 Mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga sebangun dan kongruen
Indikator :
1. Membedakan pengertian sebangun dan kongruen dua segitiga
2.
(RPP)
Sekolah : SMP
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : IX/ 1
Standar Kompetensi :
1. Memahami kesebangunan bangun datar dan penggunaannya dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar :
1.2 Mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga sebangun dan kongruen
Indikator :
1. Membedakan pengertian sebangun dan kongruen dua segitiga
2.
Rabu, 02 Desember 2009
Penelitian Tindakan Kelas : Meningkatkan kualitas Pembelajaran Proses Pertumbuhan pada tumbuhan melalui praktek menanam biji tanaman di SD Negeri 1 Krinjing
Oleh : Sutiyah
A. JUDUL PENELITIAN
Meningkatkan kualitas Pembelajaran Proses Pertumbuhan pada tumbuhan melalui praktek menanam biji tanaman di SD Negeri 1 Krinjing
B. BIDANG KAJIAN : Desain dan Strategi Pembelajaran
C. PENDAHULUAN
Kualitas pembelajaran di kelas II SD 1 Krinjing tahun pelajaran 2009 / 2010 pada konsep proses pertumbuhan pada tanaman, belum sesuai dengan diharapkan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata hasil mid semester yang kurang dari 63, dibawah nilai Standart Ketuntasan Belajara Minimal (SKBM). Selain itu situsi pembelajaran di kelas pasif, dan siswa kurang bergairah mengikuti proses pembelajaran. Dari hasil diskusi antara kepala sekolah dan guru, kondisi ini disebabkan oleh strategi pembelajaran yang dipilih guru masih belum tepat, kerena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga; guru memilih menggunakan metode praktek menanam biji tanaman. Sementara itu sebenarnya dilingkungan sekolah tersedia sumber belajar yang dapat dimanfaatkan seperti ladang penduduk dan kebun sekolah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu segera dilakukan upaya perbaikan desain dan strategi pembelajaran guru yang dapat memperbaiki kualitas pembelajaran, dengan mencoba menerapkan pembelajaran proses pertumbuhan pada tanaman. Upaya ini juga untuk mendukung pelaksanaan kurikulum KTSP 2007 / 2008 secara tematik.
D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan : Apakah penerapan model pembelajaran praktek menanam biji tanaman dapat memperbaiki kualitas pembelajaran konsep proses pertumbuhan pada tanaman.
2. Pemacahan Masalah
Untuk memecahkan masalah tersebut, dilakukan langkah-langkah sesuai dengan langkah-langkah (sintaks) model praktek menanam biji tanaman
a. Guru membagi kelompok dengan 5 atau 6 siswa yang heterogen secara akademis, kemudian memberikan masalah terkait dengan konsep proses pertumbuhan pada tanaman
b. Siswa secara berkelompok merancang kegiatan untuk memecahkan masalah dalam bentuk lembar kegiatan siswa (LKS)
c. Siswa melakukan pengamatan pada proses pertumbuhan pada tanaman
d. Siswa dan guru mengevaluasi kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruhan, penilian kelompok dan penilaian individual.
3. Indikator keberhasilan tindakan
Penerapan model investigasi kelompok ini dikatakan berhasil apabila standar kompetensi yang diharapkan pada akhir siklus tercapai indikatornya adalah sebagai berikut :
a. Apabila siswa secara kognitif mencapai ketuntasan belajar individual > 65 %, dan secara kelompok > 85 % siswa telah mencapai ketuntasan belajar.
b. Dari askpek efektif > 80% siswa dapat bekerja sama dalam kegiatan observasi lapangan dan menghormati sikap serta pendapat orang lain dalam membahas masalah.
c. Dari aspek psikomotorik > 80% siswa memperoleh ketrampilan –ketrampilan melakukan pengamatan, pembuatan laporan, dan aktif dalam kegiatan pengamatan di lapangan.
E. TUJUAN PENETIAN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran proses pertumbuhan pada tumbuhan SD Negeri 1 Krinjing.
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak berikut :
1. Siswa, agar mencapai kompetensi dasar dengan indiktor–indikatornya, meningkatkan aktivitas dalam proses pembelajaran, meningkatkan kerjasama, mengembangkan kreativitas dan mampu mengungkapkan pendapatnya.
2. Guru, akan dapat menambah variasi strategi pembelajaran, dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum
3. Sekolah, akan dapat memberikan sumbangan yang sangat berarti untuk mengembangkan sarana / prasarana dan melakukan inovasi pembelajaran SAINS khususnya, dan untuk mata pelajaran yang lain pada umumnya.
G. KAJIAN PUSTAKA
Menurut pandangan Jonhn Dewey (1917), Herbert Thelen (1960) joyce dan weil (1986) dalam winataputra (1994), pendidikan dalam masyarakat yang demokratis, seyogyanya mengajarkan proses demokrasi secara langsung. Oleh karena itu, pendidikan bagi siswa sekurang-kurang harus diorganisasikan dengan cara melakukan penelitian bersama atau “Cooperative inquiry”. Model ini telah digunakan dalam berbagai bidang studi untuk berbagai tingkat usia.
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Fungsi dari model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan aktivitas pembelajaran.
Pada dasarnya model investasi kelompok dirancang untuk membimbing para siswa mendifinisikan masalah, menggumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis. Dalam kerangka ini, guru dituntut untuk mengorganisasikan proses pembelajaran melalui kerja kelompok dan mengarahkannya membantu para siswa menemukan informasi dan mengelola terjadinya berbagai interaksi dan aktivitas belajar.
Didalam model investigasi kelompok terdapat tiga konsep utama yaitu penelitian atau inquiry, pengetahuan (knowledge) dan dinamika belajar kelompok (the dynamics of the learning group). Dalam proses penelitian ini siswa dirangsang belajar dengan cara mengharapkannya pada masalah, sehingga akan timbul reaksi untuk memecahkan masalah tersebut.
Sintaks atau tahapan kegiatan model investigasi kelompok ada lima :
1. Siswa berhadap dengan sistuasi yang problematis
2. Siswa melakukan eksplorasi sebagai reaksi terhadap sistuasi yang problematis.
3. Siswa merumuskan tugas-tugas belajar dan mengorganisasikannya untuk membangun suatu penelitian.
4. Siswa melakukan kegiatan belajar individu
5. Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian.
Prinsip pengelolaan di kelas yang menerapkan model kerja kelompok, guru lebih berperan sebagai motivasi motivator, inovator dan pemberi kritik yang bersabat. Dalam hal ini guru seyogyanya membimbing dan mencerminkan kelompok melalui tiga tahap sebagai berikut :
1. Tahap pemecahan masalah, ini berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan apa yang menjadi masalah, dan apa yang menjadi faktor masalah.
2. Tahap pengelolaan kelas, berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan, informasi apa saja yang diperlukan dan bagaimana mengorganisasikan kelompok untuk memperoleh informasi
3. Tahap pemaknaan secara perseorangan, berkaitan dengan bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya.
Berdasarkan kajian teoritik dari hasil penelitian di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan menerapkan investigasi kelompok, kulitas pembelajaran kelompok proses pertumbuhan pada tanaman di SD Negeri Krinjing akan meningkat.
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
1. Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD 1 Krinjing di kelas II dengan kemampuan siswa dan aktivitas dalam proses pembelajaran kurang.
2. Proses Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi
a. Perencanan
1. Penyiapan perangkat pembelajaran berupa skenario pembelajaran dalam rencana pembelajaran dengan langkah-langkah seperti dalam cara pemecahan masalah.
2. Membuat LKS (oleh siswa dievaluasi oleh guru) lembar observasi untuk kegiatan pengamatan dan diskusi untuk mengukur aspek psikomotorik siswa.
3. Menyusun angket, untuk mengetahui aspek afektif siswa terhadap kegiatan pembelajaran ( oleh guru ).
4. Menyusun alat evaluasi berupa butir-butir test untuk mengukur aspek kognitif siswa (oleh guru).
b. Pelaksanaan tindakan
Untuk mempermudah memahami pelaksanaan tindakan setiap siklus, disusun dalam bentuk tabel sebagai berikut :
c. Observasi
Melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi dalam kegiatan maupun diskusi. Objek amatanya adalah sebagai berikut :
1) Aktifitas siswa dalam kegiatan pengalaman yang pasif dan negatif
2) Aktivitas siswa dalam diskusi yang positif dan yang negatif
A. JUDUL PENELITIAN
Meningkatkan kualitas Pembelajaran Proses Pertumbuhan pada tumbuhan melalui praktek menanam biji tanaman di SD Negeri 1 Krinjing
B. BIDANG KAJIAN : Desain dan Strategi Pembelajaran
C. PENDAHULUAN
Kualitas pembelajaran di kelas II SD 1 Krinjing tahun pelajaran 2009 / 2010 pada konsep proses pertumbuhan pada tanaman, belum sesuai dengan diharapkan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata hasil mid semester yang kurang dari 63, dibawah nilai Standart Ketuntasan Belajara Minimal (SKBM). Selain itu situsi pembelajaran di kelas pasif, dan siswa kurang bergairah mengikuti proses pembelajaran. Dari hasil diskusi antara kepala sekolah dan guru, kondisi ini disebabkan oleh strategi pembelajaran yang dipilih guru masih belum tepat, kerena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga; guru memilih menggunakan metode praktek menanam biji tanaman. Sementara itu sebenarnya dilingkungan sekolah tersedia sumber belajar yang dapat dimanfaatkan seperti ladang penduduk dan kebun sekolah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu segera dilakukan upaya perbaikan desain dan strategi pembelajaran guru yang dapat memperbaiki kualitas pembelajaran, dengan mencoba menerapkan pembelajaran proses pertumbuhan pada tanaman. Upaya ini juga untuk mendukung pelaksanaan kurikulum KTSP 2007 / 2008 secara tematik.
D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan : Apakah penerapan model pembelajaran praktek menanam biji tanaman dapat memperbaiki kualitas pembelajaran konsep proses pertumbuhan pada tanaman.
2. Pemacahan Masalah
Untuk memecahkan masalah tersebut, dilakukan langkah-langkah sesuai dengan langkah-langkah (sintaks) model praktek menanam biji tanaman
a. Guru membagi kelompok dengan 5 atau 6 siswa yang heterogen secara akademis, kemudian memberikan masalah terkait dengan konsep proses pertumbuhan pada tanaman
b. Siswa secara berkelompok merancang kegiatan untuk memecahkan masalah dalam bentuk lembar kegiatan siswa (LKS)
c. Siswa melakukan pengamatan pada proses pertumbuhan pada tanaman
d. Siswa dan guru mengevaluasi kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruhan, penilian kelompok dan penilaian individual.
3. Indikator keberhasilan tindakan
Penerapan model investigasi kelompok ini dikatakan berhasil apabila standar kompetensi yang diharapkan pada akhir siklus tercapai indikatornya adalah sebagai berikut :
a. Apabila siswa secara kognitif mencapai ketuntasan belajar individual > 65 %, dan secara kelompok > 85 % siswa telah mencapai ketuntasan belajar.
b. Dari askpek efektif > 80% siswa dapat bekerja sama dalam kegiatan observasi lapangan dan menghormati sikap serta pendapat orang lain dalam membahas masalah.
c. Dari aspek psikomotorik > 80% siswa memperoleh ketrampilan –ketrampilan melakukan pengamatan, pembuatan laporan, dan aktif dalam kegiatan pengamatan di lapangan.
E. TUJUAN PENETIAN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran proses pertumbuhan pada tumbuhan SD Negeri 1 Krinjing.
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak berikut :
1. Siswa, agar mencapai kompetensi dasar dengan indiktor–indikatornya, meningkatkan aktivitas dalam proses pembelajaran, meningkatkan kerjasama, mengembangkan kreativitas dan mampu mengungkapkan pendapatnya.
2. Guru, akan dapat menambah variasi strategi pembelajaran, dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum
3. Sekolah, akan dapat memberikan sumbangan yang sangat berarti untuk mengembangkan sarana / prasarana dan melakukan inovasi pembelajaran SAINS khususnya, dan untuk mata pelajaran yang lain pada umumnya.
G. KAJIAN PUSTAKA
Menurut pandangan Jonhn Dewey (1917), Herbert Thelen (1960) joyce dan weil (1986) dalam winataputra (1994), pendidikan dalam masyarakat yang demokratis, seyogyanya mengajarkan proses demokrasi secara langsung. Oleh karena itu, pendidikan bagi siswa sekurang-kurang harus diorganisasikan dengan cara melakukan penelitian bersama atau “Cooperative inquiry”. Model ini telah digunakan dalam berbagai bidang studi untuk berbagai tingkat usia.
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Fungsi dari model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan aktivitas pembelajaran.
Pada dasarnya model investasi kelompok dirancang untuk membimbing para siswa mendifinisikan masalah, menggumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis. Dalam kerangka ini, guru dituntut untuk mengorganisasikan proses pembelajaran melalui kerja kelompok dan mengarahkannya membantu para siswa menemukan informasi dan mengelola terjadinya berbagai interaksi dan aktivitas belajar.
Didalam model investigasi kelompok terdapat tiga konsep utama yaitu penelitian atau inquiry, pengetahuan (knowledge) dan dinamika belajar kelompok (the dynamics of the learning group). Dalam proses penelitian ini siswa dirangsang belajar dengan cara mengharapkannya pada masalah, sehingga akan timbul reaksi untuk memecahkan masalah tersebut.
Sintaks atau tahapan kegiatan model investigasi kelompok ada lima :
1. Siswa berhadap dengan sistuasi yang problematis
2. Siswa melakukan eksplorasi sebagai reaksi terhadap sistuasi yang problematis.
3. Siswa merumuskan tugas-tugas belajar dan mengorganisasikannya untuk membangun suatu penelitian.
4. Siswa melakukan kegiatan belajar individu
5. Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam proses penelitian.
Prinsip pengelolaan di kelas yang menerapkan model kerja kelompok, guru lebih berperan sebagai motivasi motivator, inovator dan pemberi kritik yang bersabat. Dalam hal ini guru seyogyanya membimbing dan mencerminkan kelompok melalui tiga tahap sebagai berikut :
1. Tahap pemecahan masalah, ini berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan apa yang menjadi masalah, dan apa yang menjadi faktor masalah.
2. Tahap pengelolaan kelas, berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan, informasi apa saja yang diperlukan dan bagaimana mengorganisasikan kelompok untuk memperoleh informasi
3. Tahap pemaknaan secara perseorangan, berkaitan dengan bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya.
Berdasarkan kajian teoritik dari hasil penelitian di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan menerapkan investigasi kelompok, kulitas pembelajaran kelompok proses pertumbuhan pada tanaman di SD Negeri Krinjing akan meningkat.
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
1. Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD 1 Krinjing di kelas II dengan kemampuan siswa dan aktivitas dalam proses pembelajaran kurang.
2. Proses Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi
a. Perencanan
1. Penyiapan perangkat pembelajaran berupa skenario pembelajaran dalam rencana pembelajaran dengan langkah-langkah seperti dalam cara pemecahan masalah.
2. Membuat LKS (oleh siswa dievaluasi oleh guru) lembar observasi untuk kegiatan pengamatan dan diskusi untuk mengukur aspek psikomotorik siswa.
3. Menyusun angket, untuk mengetahui aspek afektif siswa terhadap kegiatan pembelajaran ( oleh guru ).
4. Menyusun alat evaluasi berupa butir-butir test untuk mengukur aspek kognitif siswa (oleh guru).
b. Pelaksanaan tindakan
Untuk mempermudah memahami pelaksanaan tindakan setiap siklus, disusun dalam bentuk tabel sebagai berikut :
c. Observasi
Melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi dalam kegiatan maupun diskusi. Objek amatanya adalah sebagai berikut :
1) Aktifitas siswa dalam kegiatan pengalaman yang pasif dan negatif
2) Aktivitas siswa dalam diskusi yang positif dan yang negatif
Minggu, 29 November 2009
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
TEORI KURIKULUM
TEORI KURIKULUM
Suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah; makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum.
PERKEMBANGAN TEORI KURIKULUM
1).Franklin Bobbit : kehidupan manusia terbentuk oleh sejumlah kecakapan, diperoleh melalui pendidikan yakni
Suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah; makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum.
PERKEMBANGAN TEORI KURIKULUM
1).Franklin Bobbit : kehidupan manusia terbentuk oleh sejumlah kecakapan, diperoleh melalui pendidikan yakni
Rabu, 25 November 2009
AgroWisata
AgroWisata
SECARA sederhana pengertian agrowisata atau wisataagro adalah kegiatan wisata yang berlokasi atau berada di kawasan pertanian secara umum, lebih dikhususkan pada areal hortikultura. Pengembangan agrowisata pada konsep universal dapat ditempuh melalui diversifikasi dan peningkatan kualitas sesuai dengan persyaratan yang diminta konsumen dan pasar global. Sedangkan pada konsep
SECARA sederhana pengertian agrowisata atau wisataagro adalah kegiatan wisata yang berlokasi atau berada di kawasan pertanian secara umum, lebih dikhususkan pada areal hortikultura. Pengembangan agrowisata pada konsep universal dapat ditempuh melalui diversifikasi dan peningkatan kualitas sesuai dengan persyaratan yang diminta konsumen dan pasar global. Sedangkan pada konsep
Antropologi Budaya
Antropologi Budaya
Antropologi budaya sangat berkaitan erat dengan penelaahan tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan seperti ilmu pengetahuan, bahasa, kepercayaan, hokum, agama, kebiasaan, musik, dan larangan-larangan. Kebudayaan ini merupakan konsep yang sangat penting untuk memahami antropologi. Secara umum, subdisiplin antropologi yang berhubungan dengan kebudayaan manusia ini
Antropologi budaya sangat berkaitan erat dengan penelaahan tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan seperti ilmu pengetahuan, bahasa, kepercayaan, hokum, agama, kebiasaan, musik, dan larangan-larangan. Kebudayaan ini merupakan konsep yang sangat penting untuk memahami antropologi. Secara umum, subdisiplin antropologi yang berhubungan dengan kebudayaan manusia ini
Selasa, 24 November 2009
Manfaat Sosiometri dalam Bimbingan.
Manfaat Sosiometri dalam Bimbingan.
Dengan mempelajari data sosiometri seorang konselor dapat :
Menemukan murid mana yang ternyata mempunyai masalah penyesuaian diridalam kelompoknya.
Membantu meningkatkan partisipasi sosial diantara murid-murid denganpenerimaan sosialnya.
Membantu meningkatkan pemahaman dan pengertian murid terhadap masalah pergaulan yang sedang dialami oleh individu tertentu.
Dengan mempelajari data sosiometri seorang konselor dapat :
Menemukan murid mana yang ternyata mempunyai masalah penyesuaian diridalam kelompoknya.
Membantu meningkatkan partisipasi sosial diantara murid-murid denganpenerimaan sosialnya.
Membantu meningkatkan pemahaman dan pengertian murid terhadap masalah pergaulan yang sedang dialami oleh individu tertentu.
Cara Membuat Antena Wajan Bolic
Di bawah ini adalah daftar hasil pencarian di internet sesuai lewat google tentunya, dengan kata kunci yang Anda gunakan - Cara Membuat Antena Wajan Bolic, Klik pada judul hasil pencarian untuk membaca informasi lebih detail mengenai Cara Membuat Antena Wajan Bolic, Kata kunci yang mungkin terkait adalah: Cara Membuat Wajan Bolic, Cara bikin Antena Wajan Bolic, Bagaimana Membuat Antena Wajan
Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga
Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga
Siklus kehidupan setiap keluarga mempunyai tahapan-tahapan. Seperti individu-individu yang mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berturut-turut, keluarga juga mengalami tahap perkembangan yang berturut-turut. Adapun tahap-tahap perkembangan menurut Duvall dan Miller dalam Friedman (1998) adalah :
1) Tahap I : keluarga pemula
Perkawinan dari
Siklus kehidupan setiap keluarga mempunyai tahapan-tahapan. Seperti individu-individu yang mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berturut-turut, keluarga juga mengalami tahap perkembangan yang berturut-turut. Adapun tahap-tahap perkembangan menurut Duvall dan Miller dalam Friedman (1998) adalah :
1) Tahap I : keluarga pemula
Perkawinan dari
Senin, 23 November 2009
Antropologi Fisik
Antropologi Fisik
Secara khusus antropologi fisik mencoba menelaaah manusia sebagai makhluk fisik yang tumbuh dan berkembang hingga terjadinya keanekaragaman makhluk manusia menurut cirri-ciri tubuh atau fenotipe, seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi, dan bentuk tubuh serta ciri-ciri genotipe seperti golongan darah.
Para ahli
Secara khusus antropologi fisik mencoba menelaaah manusia sebagai makhluk fisik yang tumbuh dan berkembang hingga terjadinya keanekaragaman makhluk manusia menurut cirri-ciri tubuh atau fenotipe, seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi, dan bentuk tubuh serta ciri-ciri genotipe seperti golongan darah.
Para ahli
Minggu, 22 November 2009
Tugas Keluarga Di Bidang Kesehatan
Tugas Keluarga Di Bidang Kesehatan
Keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi (Suprajitno, 2004):
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan -perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua atau
Keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi (Suprajitno, 2004):
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan -perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua atau
Hakekat Mempelajari Filsafat Hukum
Hakekat Mempelajari Filsafat Hukum
Hukum yang berada di tengah-tengah mastarakat tidak terlepas dari perenungan dan perumusan nilai-nilai yang bersifat mendasar dari hukum itu sendiri. Upaya ini dilakukan dengan memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan seperti apakah hukum itu sebenarnya, apakah sebabnya kita menaati hukum, apakah keadilan menjadi ukuran untuk baik atau buruknya hukum
Hukum yang berada di tengah-tengah mastarakat tidak terlepas dari perenungan dan perumusan nilai-nilai yang bersifat mendasar dari hukum itu sendiri. Upaya ini dilakukan dengan memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan seperti apakah hukum itu sebenarnya, apakah sebabnya kita menaati hukum, apakah keadilan menjadi ukuran untuk baik atau buruknya hukum
Penyakit Hipertensi
Penyakit Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah lebih tinggi dari 160/90 mmHg merupakan penyakit yang cukup banyak diderita masyarakat. Hipertensi merupakan penyebab utama dari kematian dan gangguan kadiovaskuler. Hipertensi juga sering disebut “silent killer” karena menimbulkan komplikasi pada jantung, otak dan ginjal.Masalah utama pada hipertensi adalah bahwa lebih dari 90% hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah lebih tinggi dari 160/90 mmHg merupakan penyakit yang cukup banyak diderita masyarakat. Hipertensi merupakan penyebab utama dari kematian dan gangguan kadiovaskuler. Hipertensi juga sering disebut “silent killer” karena menimbulkan komplikasi pada jantung, otak dan ginjal.Masalah utama pada hipertensi adalah bahwa lebih dari 90% hipertensi
Sabtu, 21 November 2009
Kandungan gizi dan Manfaat Kacang kedelai
Kandungan gizi dan Manfaat Kacang kedelai
KANDNGAN GIZI KACANG KEDELAI
Kandungan gizi kacang kedele yaitu, Mineral 3261 mg, Mineral Kalium 1835 mg, Magnesium 225 mg, Protein 2,8 g, Lemak 1,5 g, Karbohidrat 3,6 g, Serat 0,1 g, Vitamin A 110 mcg, Vitamin B 407 mcg, Kalori 331 g, Hidrat arang 34,8 g, Fosfor 585 g, dan sebagian besar didalam kandungan ini memiliki nilai gizi yang sangat diperlukan
KANDNGAN GIZI KACANG KEDELAI
Kandungan gizi kacang kedele yaitu, Mineral 3261 mg, Mineral Kalium 1835 mg, Magnesium 225 mg, Protein 2,8 g, Lemak 1,5 g, Karbohidrat 3,6 g, Serat 0,1 g, Vitamin A 110 mcg, Vitamin B 407 mcg, Kalori 331 g, Hidrat arang 34,8 g, Fosfor 585 g, dan sebagian besar didalam kandungan ini memiliki nilai gizi yang sangat diperlukan
Jumat, 20 November 2009
Kamis, 19 November 2009
PENELITIAN PENGARUH KOMUNIKASI, PENGELOLAAN KELAS DAN PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
IN ENGLISH VERSION CLIK HERE
PENGARUH KOMUNIKASI, PENGELOLAAN KELAS DAN PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
Oleh Hadi Setyo Nugroho
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “ Pengaruh Komunikasi, Pengelolaan Kelas dan Proses Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Matematika, Studi Kasus Pada Siswa Kelas VII Semester 2 Tahun Pelajaran 2008 / 2009 SMP Negeri 2 Selomerto”.
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui pengaruh komunikasi, pengelolan kelas dan proses pembelajaran secara parsial dan bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika, dan (2) Mengetahui variabel yang memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika, diantara variabel proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas.
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 2 Selomerto, pada bulan Mei 2009 hingga Juni 2009, dengan metode penelitian deskriptif analisis yang bersifat korelasional. Sedangkan pengambilan data dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner.
Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh kesimpulan : (1) Komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran, secara parsial dan bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar matematika, dan (2) Proses pembelajaran memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan : guru-guru di SMP Negeri 2 Selomerto diharapkan meningkatkan kemampuan proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas dengan penekanan pada variabel proses pembelajaran, karena terbukti ketiga variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar mata pelajaran matematika SMP Negeri 2 Selomerto.
Kata Kunci : Komunikasi, Pengelolaan Kelas dan Proses Pembelajaran
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa : Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut dituangkan dan dijabarkan dalam kurikulum. Sedangkan kurikulum sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dijadikan pegangan dalam proses pendidikan, selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Perubahan dalam masyarakat, eksplorasi ilmu pegetahuan dan lain-lain mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum, yang sering berati turut mengubah manusia yaitu guru, pembina pendidikan dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan, dimaksudkan untuk mencapai perbaikan.
Berbagai usaha perubahan kurikulum yang telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional belum membuahkan hasil yang diharapkan, yaitu meningkatnya prestasi siswa terutama pada mata pelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari kondisi prestasi belajar matematika di SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008/2009 semester pertama rata-ratanya 58,6 (masih di bawah nilai rata-rata mata pelajaran IPA yaitu 66,4).
Selain karena faktor siswa, rendahnya nilai mata pelajaran matematika disebabkan pula oleh beberapa faktor eksternal, seperti kemampuan guru mengajar masih rendah dan sistem pelatihan guru yang ada selama ini belum berhasil meningkatkan kinerja guru untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa (Subijanto, 2005). Komunikasi antara guru dengan siswa di SMP Negeri 2 Selomerto kelihatan ada jarak yang memisahkan antara guru dan siswa, hal ini dapat dilihat dari prosentase siswa yang mau bertanya saat kegiatan belajar mengajar masih kecil, khususnya pada pelajaran matematika. Selain itu penggunaan model-model pembelajaran di SMP Negeri 2 Selomerto belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, biasanya guru menerapkan suatu model pembelajaran ataupun menggunakan alat peraga hanya pada saat supervisi oleh kepala sekolah.
Guru merupakan sosok yang keberadaannya tidak dapat digantikan oleh media atau fasilitas pembelajaran apapun. Kehadiran guru masih tetap diperlukan, kehadiran guru sebagai sosok yang berdiri di depan kelas keberadaannya sampai kapanpun tidak dapat digantikan oleh media pembelajaran secanggih apapun. Guru harus tetap melaksanakan pembelajaran secara langsung di depan siswa. Oleh karena itu apapun alasannya guru harus mengajar langsung di depan siswa agar tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat tercapai. Proses pembelajaran yang optimal diharapkan dapat memberikan pelayanan minimal yang diberikan oleh guru kepada siswa yang akan berimplementasi pada prestasi belajar siswa.
Seiring dengan perkembangan jaman, yang berdampak terhadap perubahan kurikulum pembelajaran, kualitas pembelajaran perlu selalu ditingkatkan. Keadaan tersebut dapat dimulai dengan peningkatan kompetensi para guru, baik dalam menyampaikan materi, menggunakan metode dan teknik mengajar yang tepat, menggunakan media pembelajaran maupun kebutuhan peserta didik. Guru yang profesional pada hakekatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Namun demikian untuk mencapai ke arah tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan dan wawasan dalam pembelajaran, termasuk salah satunya menggunakan model dan metode pembelajaran yang tepat. Dalam pembelajaran matematika, guru tidak cukup terfokus hanya pada satu model dan metode tertentu saja. Guru perlu mencoba menerapkan berbagai model dan metode yang sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran, termasuk dalam penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode belajar kelompok. Pemilihan model dan metode yang tepat tersebut akan dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.
Pada penelitian ini ingin mengungkap permasalahan dengan membatasi pada pengaruh proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa pada matematika. Motivasi penelitian ini adalah dapat memberikan sumbangan berupa alternatif jalan keluar penyelesaian permasalahan atau minimal mengurangi adanya permasalahan tersebut.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan masalahnya adalah :
1. Apakah variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang berarti baik secara parsial maupun secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika ?
2. Variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran matematika, diantara variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran?
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh antara variabel-variabel komunikasi, pengelolaan kelas, dan proses pembelajaran baik secara parsial maupun bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika.
2. Untuk mengetahui variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran matematika, diantara variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran . Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat penelitian ini adalah :
1. Dengan pengaruh antara komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran dengan prestasi belajar mata pelajaran matematika, maka pengambilan keputusan tentang peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilaksanakan.
2. Sebagai referensi bagi penelitian, terutama yang ada hubungannya dengan penelitian ini, dan pengembangan manajemen sumber daya manusia di masa yang akan datang.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi Kepala Sekolah dalam rangka peningkatan prestasi belajar mata pelajaran matematika di waktu yang akan datang.
TELAAH PUSTAKA
Landasan Teoritis
1. Prestasi Belajar Siswa
Para ahli berpendapat tentang belajar, diantaranya Hogard dan Bower dalam Rowakhidah (2004 : 4) mengatakan bahwa belajar adalah berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan-perubahan tingkah laku ini tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya). Sedangkan menurut T. Raka Joni dalam Rowakhidah (2004), dikatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku, sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang atau perubahan yang intruktif atau yang bersifat temporer.
Proses belajar yang berlangsung di sekolah berkaitan erat dengan prestasi kerja yang akan dicapai siswa, seorang siswa yang berhasil dalam belajarnya akan dapat terlihat pada prestasinya di sekolah. Adapun pengertian dari prestasi belajar yang dinyatakan dari Depdikbud (1984 : 20) adalah sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes.
Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan yang nyata dari individu yang diperoleh dari kegiatan proses belajar mengajar dengan kriteria proses penilitian tertentu dan dalam kurun waktu (triwulan, catur wulan, semester atau tahun).
Beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah antara lain dijelaskan oleh Tim Pengembangan MKDK (1990 : 149) yaitu :
a. Faktor internal yakni faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri seperti kondisi fisiologis yang terdiri dari kondisi fisiologis umum, kondisi panca indra dan kondisi psikologis yang terdiri dari kecerdasan (IQ), bakat minat motivasi, emosi, kemampuan kognitif.
b. Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar dari anak seperti lingkungan yang terdiri dari lingkungan alami, lingkungan sosial, dan instrumen yang terdiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas dan tenaga pengajar / guru.
Sedangkan Depdikbud (1984 : 23) mengemukakan bahwa hasil atau prestasi itu bukanlah produksi, bakat atau intelegensia melainkan pencaran dari pendidikan dan latihan sebelumnya. Bakat atau intelegensia hanya merupakan salah satu variabel saja yang dapat memperbesar dan juga memperkecil hasil aksi prestasi itu. Dengan kata lain, hasil atau prestasi belajar seseorang adalah pengalaman belajar yang ditunjang oleh bakat dan intelegensia.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat berasal dari dalam diri siswa juga berasal dari luar siswa. Oleh sebab itu keseluruhan dari faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi dalam perkembangan prestasi belajar siswa di sekolah, seperti anak hidup dalam sosial tertentu. Karena itu anak bisa dipengaruhi oleh orang lain dan bisa dididik. Anak tidak mungkin bisa berkembang dengan sendirinya tanpa bantuan dari lingkungan sosialnya (orang tua, lembaga pendidikan dan lain-lain). Oleh karena itu segala sesuatu ada dan melekat pada diri anak, mempunyai kaitan dengan lingkungan sosialnya.
Banyak fakta mengungkapkan bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih sangat rendah. Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah opini bahwa matematika sulit, membosankan, tidak menarik terus terdengar di mulut ke mulut. Hasilnya, sampai sekarang pelajaran matematika masih menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan siswa jika dibandingkan dengan sedikitnya jumlah siswa yang dapat menikmati keasyikan belajar matematika. Kenyataan ini berpengaruh terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran matematika.
Prestasi belajar siswa diperoleh dari proses penilaian yang merupakan bagian integral dari pengajaran. Penilaian ini dilakukan oleh guru sebagai sarana untuk menjajagi sejauh mana pengetahuan tentang hal-hal yang telah dipelajari telah terbentuk dalam otak siswa. Untuk dapat mengetahui pemahaman siswa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
1. Asesmen (penjajagan) dilakukan dalam berbagai teknik, misalnya tes tertulis, pertanyaan lisan, mendengarkan, pengamatan kerja praktek, pemeriksaan karya tulis siswa.
2. Asesmen hasil mencakup semua tahapan pengetahuan yaitu pembentukan konsep dan prinsip, kelancaran melakukan operasi / pengerjaan (skill), keterampilan menerapkan konsep dalam konteks dan kreativitas memecahkan masalah dan investigasi.
3. Asesmen harus terjadi sepanjang pembelajaran. Ketika guru menjelaskan fakta / konsep, guru harus menyelingi dengan pertanyaan-pertanyaan. (Soleh, 1998 : 26).
Sedangkan penilaian prestasi belajar matematika menurut Maier (1995) ialah pernyataan tentang pengetahuan dan kemampuan para pelajar dalam rangka pembelajaran matematika. Penilaian ini terdiri dari penilaian pekerjaan sekolah dan pekerjaan ulangan serta ujian secara tertulis, penilaian dan tes prestasi sekolah atau penetapan prestasi secara lisan.
Pada penelitian ini, prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika diperoleh melalui tes tertulis, dimana soal tes dibuat oleh peneliti dan mencakup beberapa materi pokok pada semester 2 yaitu materi himpunan dan materi garis dan sudut.
2. Kompetensi
Menurut John Stevenson dalam Subijanto (2005) pada artikel
“Competency Based Training in Australia an Analisis of Assumptions” mengutip dari The National Training Board menyatakan bahwa “Competence comprises the specification of knowledge and skills and the application of that knowledge and skill withim an ocupation or industry level to the standard of performance required in employment”.
Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa kompetensi terdiri dari pengetahuan dan keterampilan yang secara spisifik standar dan diterapkan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditemukan.
Menurut Acuan Penyusunan Standar Kompetensi (MPKN, 1998) mendefinisikan kompetensi secara umum sebagai kemampuan untuk mengerjakan suatu tugas dan didukung oleh sikap kerja. Dengan kata lain, untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik dan benar, maka seseorang guru dituntut memiliki :
a. Pengetahuan tentang tugas yang dilakukan / diembannya serta bagaimana mengerjakan tugas itu.
b. Keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas.
c. Sikap kerja yang dibutuhkan untuk dapat mengerjakan tugas dengan baik dan benar.
d. Daya fisik yang cukup.
Hipotesis
Berdasarkan pengertian di atas dan sesuai dengan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan landasan teori, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Diduga bahwa variabel-variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran secara parsial maupun bersama-sama berpengaruh positif terhadap prestasi belajar matematika.
2. Diduga bahwa variabel proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang paling berarti dibanding kedua faktor lainnya terhadap pertasi belajar matematika.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Selomerto Kabupaten Wonosobo Propinsi Jawa Tengah.
2. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian adalah siswa VII SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008 / 2009.
3. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei, yaitu informasi yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner, dan umumnya pengertian survei dibatasi pada pengertian survei sampel dimana informasi dikumpulkan dari sebagian populasi untuk mewakili seluruh populasi (Masri Singarimbun, 1995 : 8 ).
4. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan 2 (dua bulan, mulai bulan April – Mei 2009).
5. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diambil dalam penelitian ini berupa data primer, yaitu data tentang tiga varibel bebas dalam penelitian ini, yaitu variabel proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas, yang diperoleh dari responden melalui metode kuesioner.
Metode Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1996). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008 / 2009 yang berjumlah 276 anak yang terkelompok menjadi 7 kelas, yaitu kelas VII A sebanyak 39 anak, VII B sebanyak 40 anak, VII C sebanyak 38 anak, VII D sebanyak 38 anak VII E sebanyak 40 anak, VII F sebanyak 40 anak dan VII G sebanyak 41 anak.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian individu dari seluruh populasi yang diselidiki (Sutrisno Hadi, 1986). Atas dasar adanya faktor keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, sampel diambil dengan teknik cluster random sampling. Dalam penelitian ini sampel diambil dari populasi yaitu 3 kelas, diambil secara acak yaitu kelas A, C dan D yang berjumlah 120 siswa. Champion (1981) mengatakan bahwa sebagian besar uji statistik selalu menyertakan rekomendasi ukuran sampel. Dengan kata lain, uji-uji statistik yang ada akan sangat efektif jika diterapkan pada sampel yang jumlahnya 30 s/d 60 atau dari 120 s/d 250.
Metode Analisis
1. Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan Skala Ordinal yang diambil dari model skala Likert. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan prestasi seseorang atau sekelompok orang tentang gejala sosial (Riduan dalam Sutrisno, 2005).
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Angket positif, yaitu jawaban sangat sering = 5, sering = 4, kadang-kadang = 3, pernah = 4, dan tidak pernah = 1
b. Angket negatif, yaitu jawaban sangat sering = 1, sering = 2, kadang-kadang = 3, pernah = 4, dan tidak pernah = 5
Skor diperoleh dari hasil jawaban dengan proses Checklist, yaitu suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang diamati (Riduan dalam Sutrisno, 2005). Setiap pertanyaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor gabungan. Nalai total untuk setiap jawaban dihitung untuk setiap responden.
Sedangkan untuk variabel prestasi belajar matematika diukur dengan mengeteskan beberapa soal matematika kepada responden dengan materi himpunan dan garis-garis sejajar.
2. Pengujian Istrumen Penelitian
a. Uji validitas
b. Uji Reliabilitas
c. Peningkatan data ordinal ke interval
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Variabel komunikasi (X1), pengelolaan kelas (X2) dan proses pembelajaran (X3) baik secara parsial maupun bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar metematika (Y). Kesimpulan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan prestasi belajar matematika dapat dilakukan dengan peningkatan keterampilan guru dalam, komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran.
2. Varibel proses pembelajaran (X3) memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika (Y). Oleh karena itu prestasi belajar metematika baik, maka perlu peningkatan keterampilan guru, terutama pada faktor keterampilan proses pembelajaran, disamping kemampuan dalam komunikasi dan pengelolaan kelas.
Saran
Guru-guru di SMP Negeri 2 Selomerto diharapkan meningkatkan kemampuan dalam proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas dengan penekanan pada variabel proses pembelajaran, kerena terbukti ketiga variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar matematika. Sehingga untuk meningkatkan prestasi belajar matematika, perlu ditekankan pada peningkatan keterampilan guru dalam komunikasi, pengelolaan kelas dan terutama pada proses pembelajaran.
Kegiatan untuk meningkatkan keterampilan guru dapat dilakukan dengan cara mengikutsertakan guru dalam pelatihan-pelatihan guru matematika baik yang diselenggarakan di tingkat sekolah, MGMP Kabupaten maupun di tingkat regional atau nasional.
Peningkatan prestasi belajar matematika yang dipengaruhi oleh proses pembelajaran dapat ditempuh dengan menambah jam pelajaran sehingga keterampilan mengajarnya semakin baik dan mengikuti pelatihan-pelatihan guru matematika yang diselenggarakan oleh dinas-dinas pendidikan terkait. Sedangkan komunikasi yang dilakukan guru matematika dalam proses pembelajaran perlu dibenahi dengan upaya melalui pendekatan personal terhadap para siswa dan mengubah penampilannya menjadi guru yang ramah dan supel supaya disukai siswa-siswanya sehingga siswa menjadi menyenangi matematika. Keterampilan mengelola kelas perlu ditingkatkan dengan cara mendisiplinkan siswa sesuai peraturan sekolah yang berlaku dan menerapkan sistem reward and punishment pada siswanya di kelas, ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Djauzak. 1996. Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Depdiknas, Jakarata.
Amin, Moch, dkk. 1979. Humanistic Education. Ditjen Dikti. PNKK, Jakarta.
Alghifari, 1997.Analisis Regresi Teori, Kasus, dan Solusi. BPFE, Yogyakarta.
Arikunto, Suharsimi, 1996. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta.
................................., 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta Jakarta.
Depdikbud. 1984. Dasar-Dasar Pengajaran. Depdiknas, Jakarta.
Donald Ace Morgan, John Sneed and Lauwrie Swinney. 2003. Teaching Effectiveness.
Hadi, Sutrisno. 1986. Metodologi Research. Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.
Maier, Herman. 1998. Kompedium Didaktik Matematika. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Nurida, Awita. 2002. Pengaruh Kompetensi, Motivasi dan Sistem Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi IPA di SLTP Negeri 1 Balikpapan. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.
Pusat Pengembangn dan Sistem Pengujian. 1999. The International Association for the Evaluation of Education Achievement. Balitbang Depdiknas, Jakarta.
Rowakhidah. 2004. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa SMP Negeri 3 Cilacap Kabupaten Cilacap. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.
Sardiman, A.M. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar : Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru. Rajawali Pers, Jakarta.
Semiawan, Conny, dkk. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Shadiq, Fadjar. 2005. Psikologi – Pedagogi Pembelajaran Matematika dan Andragogi. Makalah Diklat Fungsional Matematika Bagi Guru SMP Kabupaten Cilacap.
Soleh, Mohammad. 1998. Pokok-Pokok Pengajaran Matematika di Sekolah. Depdiknas, Jakarta.
Singarimbun, Masri. 1987. Metode Penelitian Survei. LP3ES, Yogyakarta.
Stevenson, John. 1991. Competency Based Training in Australia : an Analisis of Assumption (1993) dalam Jurnal The Nation Training Board, Australia.
Subijanto. 2005. Studi Kemampuan Guru Mengajar Fisika di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Jurnal dalam www.depdiknas.go.id.
Sudjana, Nana. 1996. Statistik. LP3ES, Jakarta.
Sungatman. 2001, Analisis Kinerja Guru SLTP Negeri 3 Samarinda Kota Samarinda. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.
Supranto. 1997. Statistik Teori dan Aplikasi, Edisi Kelima, Jilid Kedua. Erlangga, Jakarta.
PENGARUH KOMUNIKASI, PENGELOLAAN KELAS DAN PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
Oleh Hadi Setyo Nugroho
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “ Pengaruh Komunikasi, Pengelolaan Kelas dan Proses Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Matematika, Studi Kasus Pada Siswa Kelas VII Semester 2 Tahun Pelajaran 2008 / 2009 SMP Negeri 2 Selomerto”.
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui pengaruh komunikasi, pengelolan kelas dan proses pembelajaran secara parsial dan bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika, dan (2) Mengetahui variabel yang memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika, diantara variabel proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas.
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 2 Selomerto, pada bulan Mei 2009 hingga Juni 2009, dengan metode penelitian deskriptif analisis yang bersifat korelasional. Sedangkan pengambilan data dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner.
Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh kesimpulan : (1) Komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran, secara parsial dan bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar matematika, dan (2) Proses pembelajaran memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan : guru-guru di SMP Negeri 2 Selomerto diharapkan meningkatkan kemampuan proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas dengan penekanan pada variabel proses pembelajaran, karena terbukti ketiga variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar mata pelajaran matematika SMP Negeri 2 Selomerto.
Kata Kunci : Komunikasi, Pengelolaan Kelas dan Proses Pembelajaran
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa : Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut dituangkan dan dijabarkan dalam kurikulum. Sedangkan kurikulum sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dijadikan pegangan dalam proses pendidikan, selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Perubahan dalam masyarakat, eksplorasi ilmu pegetahuan dan lain-lain mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum, yang sering berati turut mengubah manusia yaitu guru, pembina pendidikan dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan, dimaksudkan untuk mencapai perbaikan.
Berbagai usaha perubahan kurikulum yang telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional belum membuahkan hasil yang diharapkan, yaitu meningkatnya prestasi siswa terutama pada mata pelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari kondisi prestasi belajar matematika di SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008/2009 semester pertama rata-ratanya 58,6 (masih di bawah nilai rata-rata mata pelajaran IPA yaitu 66,4).
Selain karena faktor siswa, rendahnya nilai mata pelajaran matematika disebabkan pula oleh beberapa faktor eksternal, seperti kemampuan guru mengajar masih rendah dan sistem pelatihan guru yang ada selama ini belum berhasil meningkatkan kinerja guru untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa (Subijanto, 2005). Komunikasi antara guru dengan siswa di SMP Negeri 2 Selomerto kelihatan ada jarak yang memisahkan antara guru dan siswa, hal ini dapat dilihat dari prosentase siswa yang mau bertanya saat kegiatan belajar mengajar masih kecil, khususnya pada pelajaran matematika. Selain itu penggunaan model-model pembelajaran di SMP Negeri 2 Selomerto belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, biasanya guru menerapkan suatu model pembelajaran ataupun menggunakan alat peraga hanya pada saat supervisi oleh kepala sekolah.
Guru merupakan sosok yang keberadaannya tidak dapat digantikan oleh media atau fasilitas pembelajaran apapun. Kehadiran guru masih tetap diperlukan, kehadiran guru sebagai sosok yang berdiri di depan kelas keberadaannya sampai kapanpun tidak dapat digantikan oleh media pembelajaran secanggih apapun. Guru harus tetap melaksanakan pembelajaran secara langsung di depan siswa. Oleh karena itu apapun alasannya guru harus mengajar langsung di depan siswa agar tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat tercapai. Proses pembelajaran yang optimal diharapkan dapat memberikan pelayanan minimal yang diberikan oleh guru kepada siswa yang akan berimplementasi pada prestasi belajar siswa.
Seiring dengan perkembangan jaman, yang berdampak terhadap perubahan kurikulum pembelajaran, kualitas pembelajaran perlu selalu ditingkatkan. Keadaan tersebut dapat dimulai dengan peningkatan kompetensi para guru, baik dalam menyampaikan materi, menggunakan metode dan teknik mengajar yang tepat, menggunakan media pembelajaran maupun kebutuhan peserta didik. Guru yang profesional pada hakekatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Namun demikian untuk mencapai ke arah tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan dan wawasan dalam pembelajaran, termasuk salah satunya menggunakan model dan metode pembelajaran yang tepat. Dalam pembelajaran matematika, guru tidak cukup terfokus hanya pada satu model dan metode tertentu saja. Guru perlu mencoba menerapkan berbagai model dan metode yang sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran, termasuk dalam penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode belajar kelompok. Pemilihan model dan metode yang tepat tersebut akan dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.
Pada penelitian ini ingin mengungkap permasalahan dengan membatasi pada pengaruh proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa pada matematika. Motivasi penelitian ini adalah dapat memberikan sumbangan berupa alternatif jalan keluar penyelesaian permasalahan atau minimal mengurangi adanya permasalahan tersebut.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan masalahnya adalah :
1. Apakah variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang berarti baik secara parsial maupun secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika ?
2. Variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran matematika, diantara variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran?
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh antara variabel-variabel komunikasi, pengelolaan kelas, dan proses pembelajaran baik secara parsial maupun bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika.
2. Untuk mengetahui variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran matematika, diantara variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran . Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat penelitian ini adalah :
1. Dengan pengaruh antara komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran dengan prestasi belajar mata pelajaran matematika, maka pengambilan keputusan tentang peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilaksanakan.
2. Sebagai referensi bagi penelitian, terutama yang ada hubungannya dengan penelitian ini, dan pengembangan manajemen sumber daya manusia di masa yang akan datang.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi Kepala Sekolah dalam rangka peningkatan prestasi belajar mata pelajaran matematika di waktu yang akan datang.
TELAAH PUSTAKA
Landasan Teoritis
1. Prestasi Belajar Siswa
Para ahli berpendapat tentang belajar, diantaranya Hogard dan Bower dalam Rowakhidah (2004 : 4) mengatakan bahwa belajar adalah berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan-perubahan tingkah laku ini tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya). Sedangkan menurut T. Raka Joni dalam Rowakhidah (2004), dikatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku, sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang atau perubahan yang intruktif atau yang bersifat temporer.
Proses belajar yang berlangsung di sekolah berkaitan erat dengan prestasi kerja yang akan dicapai siswa, seorang siswa yang berhasil dalam belajarnya akan dapat terlihat pada prestasinya di sekolah. Adapun pengertian dari prestasi belajar yang dinyatakan dari Depdikbud (1984 : 20) adalah sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes.
Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan yang nyata dari individu yang diperoleh dari kegiatan proses belajar mengajar dengan kriteria proses penilitian tertentu dan dalam kurun waktu (triwulan, catur wulan, semester atau tahun).
Beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah antara lain dijelaskan oleh Tim Pengembangan MKDK (1990 : 149) yaitu :
a. Faktor internal yakni faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri seperti kondisi fisiologis yang terdiri dari kondisi fisiologis umum, kondisi panca indra dan kondisi psikologis yang terdiri dari kecerdasan (IQ), bakat minat motivasi, emosi, kemampuan kognitif.
b. Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar dari anak seperti lingkungan yang terdiri dari lingkungan alami, lingkungan sosial, dan instrumen yang terdiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas dan tenaga pengajar / guru.
Sedangkan Depdikbud (1984 : 23) mengemukakan bahwa hasil atau prestasi itu bukanlah produksi, bakat atau intelegensia melainkan pencaran dari pendidikan dan latihan sebelumnya. Bakat atau intelegensia hanya merupakan salah satu variabel saja yang dapat memperbesar dan juga memperkecil hasil aksi prestasi itu. Dengan kata lain, hasil atau prestasi belajar seseorang adalah pengalaman belajar yang ditunjang oleh bakat dan intelegensia.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat berasal dari dalam diri siswa juga berasal dari luar siswa. Oleh sebab itu keseluruhan dari faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi dalam perkembangan prestasi belajar siswa di sekolah, seperti anak hidup dalam sosial tertentu. Karena itu anak bisa dipengaruhi oleh orang lain dan bisa dididik. Anak tidak mungkin bisa berkembang dengan sendirinya tanpa bantuan dari lingkungan sosialnya (orang tua, lembaga pendidikan dan lain-lain). Oleh karena itu segala sesuatu ada dan melekat pada diri anak, mempunyai kaitan dengan lingkungan sosialnya.
Banyak fakta mengungkapkan bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih sangat rendah. Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah opini bahwa matematika sulit, membosankan, tidak menarik terus terdengar di mulut ke mulut. Hasilnya, sampai sekarang pelajaran matematika masih menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan siswa jika dibandingkan dengan sedikitnya jumlah siswa yang dapat menikmati keasyikan belajar matematika. Kenyataan ini berpengaruh terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran matematika.
Prestasi belajar siswa diperoleh dari proses penilaian yang merupakan bagian integral dari pengajaran. Penilaian ini dilakukan oleh guru sebagai sarana untuk menjajagi sejauh mana pengetahuan tentang hal-hal yang telah dipelajari telah terbentuk dalam otak siswa. Untuk dapat mengetahui pemahaman siswa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
1. Asesmen (penjajagan) dilakukan dalam berbagai teknik, misalnya tes tertulis, pertanyaan lisan, mendengarkan, pengamatan kerja praktek, pemeriksaan karya tulis siswa.
2. Asesmen hasil mencakup semua tahapan pengetahuan yaitu pembentukan konsep dan prinsip, kelancaran melakukan operasi / pengerjaan (skill), keterampilan menerapkan konsep dalam konteks dan kreativitas memecahkan masalah dan investigasi.
3. Asesmen harus terjadi sepanjang pembelajaran. Ketika guru menjelaskan fakta / konsep, guru harus menyelingi dengan pertanyaan-pertanyaan. (Soleh, 1998 : 26).
Sedangkan penilaian prestasi belajar matematika menurut Maier (1995) ialah pernyataan tentang pengetahuan dan kemampuan para pelajar dalam rangka pembelajaran matematika. Penilaian ini terdiri dari penilaian pekerjaan sekolah dan pekerjaan ulangan serta ujian secara tertulis, penilaian dan tes prestasi sekolah atau penetapan prestasi secara lisan.
Pada penelitian ini, prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika diperoleh melalui tes tertulis, dimana soal tes dibuat oleh peneliti dan mencakup beberapa materi pokok pada semester 2 yaitu materi himpunan dan materi garis dan sudut.
2. Kompetensi
Menurut John Stevenson dalam Subijanto (2005) pada artikel
“Competency Based Training in Australia an Analisis of Assumptions” mengutip dari The National Training Board menyatakan bahwa “Competence comprises the specification of knowledge and skills and the application of that knowledge and skill withim an ocupation or industry level to the standard of performance required in employment”.
Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa kompetensi terdiri dari pengetahuan dan keterampilan yang secara spisifik standar dan diterapkan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditemukan.
Menurut Acuan Penyusunan Standar Kompetensi (MPKN, 1998) mendefinisikan kompetensi secara umum sebagai kemampuan untuk mengerjakan suatu tugas dan didukung oleh sikap kerja. Dengan kata lain, untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik dan benar, maka seseorang guru dituntut memiliki :
a. Pengetahuan tentang tugas yang dilakukan / diembannya serta bagaimana mengerjakan tugas itu.
b. Keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas.
c. Sikap kerja yang dibutuhkan untuk dapat mengerjakan tugas dengan baik dan benar.
d. Daya fisik yang cukup.
Hipotesis
Berdasarkan pengertian di atas dan sesuai dengan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan landasan teori, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Diduga bahwa variabel-variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran secara parsial maupun bersama-sama berpengaruh positif terhadap prestasi belajar matematika.
2. Diduga bahwa variabel proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang paling berarti dibanding kedua faktor lainnya terhadap pertasi belajar matematika.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Selomerto Kabupaten Wonosobo Propinsi Jawa Tengah.
2. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian adalah siswa VII SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008 / 2009.
3. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei, yaitu informasi yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner, dan umumnya pengertian survei dibatasi pada pengertian survei sampel dimana informasi dikumpulkan dari sebagian populasi untuk mewakili seluruh populasi (Masri Singarimbun, 1995 : 8 ).
4. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan 2 (dua bulan, mulai bulan April – Mei 2009).
5. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diambil dalam penelitian ini berupa data primer, yaitu data tentang tiga varibel bebas dalam penelitian ini, yaitu variabel proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas, yang diperoleh dari responden melalui metode kuesioner.
Metode Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1996). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008 / 2009 yang berjumlah 276 anak yang terkelompok menjadi 7 kelas, yaitu kelas VII A sebanyak 39 anak, VII B sebanyak 40 anak, VII C sebanyak 38 anak, VII D sebanyak 38 anak VII E sebanyak 40 anak, VII F sebanyak 40 anak dan VII G sebanyak 41 anak.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian individu dari seluruh populasi yang diselidiki (Sutrisno Hadi, 1986). Atas dasar adanya faktor keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, sampel diambil dengan teknik cluster random sampling. Dalam penelitian ini sampel diambil dari populasi yaitu 3 kelas, diambil secara acak yaitu kelas A, C dan D yang berjumlah 120 siswa. Champion (1981) mengatakan bahwa sebagian besar uji statistik selalu menyertakan rekomendasi ukuran sampel. Dengan kata lain, uji-uji statistik yang ada akan sangat efektif jika diterapkan pada sampel yang jumlahnya 30 s/d 60 atau dari 120 s/d 250.
Metode Analisis
1. Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan Skala Ordinal yang diambil dari model skala Likert. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan prestasi seseorang atau sekelompok orang tentang gejala sosial (Riduan dalam Sutrisno, 2005).
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Angket positif, yaitu jawaban sangat sering = 5, sering = 4, kadang-kadang = 3, pernah = 4, dan tidak pernah = 1
b. Angket negatif, yaitu jawaban sangat sering = 1, sering = 2, kadang-kadang = 3, pernah = 4, dan tidak pernah = 5
Skor diperoleh dari hasil jawaban dengan proses Checklist, yaitu suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang diamati (Riduan dalam Sutrisno, 2005). Setiap pertanyaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor gabungan. Nalai total untuk setiap jawaban dihitung untuk setiap responden.
Sedangkan untuk variabel prestasi belajar matematika diukur dengan mengeteskan beberapa soal matematika kepada responden dengan materi himpunan dan garis-garis sejajar.
2. Pengujian Istrumen Penelitian
a. Uji validitas
b. Uji Reliabilitas
c. Peningkatan data ordinal ke interval
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Variabel komunikasi (X1), pengelolaan kelas (X2) dan proses pembelajaran (X3) baik secara parsial maupun bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar metematika (Y). Kesimpulan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan prestasi belajar matematika dapat dilakukan dengan peningkatan keterampilan guru dalam, komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran.
2. Varibel proses pembelajaran (X3) memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika (Y). Oleh karena itu prestasi belajar metematika baik, maka perlu peningkatan keterampilan guru, terutama pada faktor keterampilan proses pembelajaran, disamping kemampuan dalam komunikasi dan pengelolaan kelas.
Saran
Guru-guru di SMP Negeri 2 Selomerto diharapkan meningkatkan kemampuan dalam proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas dengan penekanan pada variabel proses pembelajaran, kerena terbukti ketiga variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar matematika. Sehingga untuk meningkatkan prestasi belajar matematika, perlu ditekankan pada peningkatan keterampilan guru dalam komunikasi, pengelolaan kelas dan terutama pada proses pembelajaran.
Kegiatan untuk meningkatkan keterampilan guru dapat dilakukan dengan cara mengikutsertakan guru dalam pelatihan-pelatihan guru matematika baik yang diselenggarakan di tingkat sekolah, MGMP Kabupaten maupun di tingkat regional atau nasional.
Peningkatan prestasi belajar matematika yang dipengaruhi oleh proses pembelajaran dapat ditempuh dengan menambah jam pelajaran sehingga keterampilan mengajarnya semakin baik dan mengikuti pelatihan-pelatihan guru matematika yang diselenggarakan oleh dinas-dinas pendidikan terkait. Sedangkan komunikasi yang dilakukan guru matematika dalam proses pembelajaran perlu dibenahi dengan upaya melalui pendekatan personal terhadap para siswa dan mengubah penampilannya menjadi guru yang ramah dan supel supaya disukai siswa-siswanya sehingga siswa menjadi menyenangi matematika. Keterampilan mengelola kelas perlu ditingkatkan dengan cara mendisiplinkan siswa sesuai peraturan sekolah yang berlaku dan menerapkan sistem reward and punishment pada siswanya di kelas, ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Djauzak. 1996. Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Depdiknas, Jakarata.
Amin, Moch, dkk. 1979. Humanistic Education. Ditjen Dikti. PNKK, Jakarta.
Alghifari, 1997.Analisis Regresi Teori, Kasus, dan Solusi. BPFE, Yogyakarta.
Arikunto, Suharsimi, 1996. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta.
................................., 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta Jakarta.
Depdikbud. 1984. Dasar-Dasar Pengajaran. Depdiknas, Jakarta.
Donald Ace Morgan, John Sneed and Lauwrie Swinney. 2003. Teaching Effectiveness.
Hadi, Sutrisno. 1986. Metodologi Research. Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.
Maier, Herman. 1998. Kompedium Didaktik Matematika. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Nurida, Awita. 2002. Pengaruh Kompetensi, Motivasi dan Sistem Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi IPA di SLTP Negeri 1 Balikpapan. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.
Pusat Pengembangn dan Sistem Pengujian. 1999. The International Association for the Evaluation of Education Achievement. Balitbang Depdiknas, Jakarta.
Rowakhidah. 2004. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa SMP Negeri 3 Cilacap Kabupaten Cilacap. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.
Sardiman, A.M. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar : Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru. Rajawali Pers, Jakarta.
Semiawan, Conny, dkk. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Shadiq, Fadjar. 2005. Psikologi – Pedagogi Pembelajaran Matematika dan Andragogi. Makalah Diklat Fungsional Matematika Bagi Guru SMP Kabupaten Cilacap.
Soleh, Mohammad. 1998. Pokok-Pokok Pengajaran Matematika di Sekolah. Depdiknas, Jakarta.
Singarimbun, Masri. 1987. Metode Penelitian Survei. LP3ES, Yogyakarta.
Stevenson, John. 1991. Competency Based Training in Australia : an Analisis of Assumption (1993) dalam Jurnal The Nation Training Board, Australia.
Subijanto. 2005. Studi Kemampuan Guru Mengajar Fisika di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Jurnal dalam www.depdiknas.go.id.
Sudjana, Nana. 1996. Statistik. LP3ES, Jakarta.
Sungatman. 2001, Analisis Kinerja Guru SLTP Negeri 3 Samarinda Kota Samarinda. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.
Supranto. 1997. Statistik Teori dan Aplikasi, Edisi Kelima, Jilid Kedua. Erlangga, Jakarta.
Sifat-Sifat Karbon Dioksida
Sifat-Sifat Karbon Dioksida
Karbon dioksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Ketika dihirup pada konsentrasi yang lebih tinggi dari konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, ia akan terasa asam di mulut dan mengengat di hidung dan tenggorokan. Efek ini disebabkan oleh pelarutan gas di membran mukosa dan saliva, membentuk larutan asam karbonat yang lemah. Sensasi ini juga dapat
Karbon dioksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Ketika dihirup pada konsentrasi yang lebih tinggi dari konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, ia akan terasa asam di mulut dan mengengat di hidung dan tenggorokan. Efek ini disebabkan oleh pelarutan gas di membran mukosa dan saliva, membentuk larutan asam karbonat yang lemah. Sensasi ini juga dapat
Kekerasan dalam berpacaran
Kekerasan dalam berpacaran
Ada ungkapan yang menyatakan bahwa masa remaja adalah masa yang terindah dan masa yang tak terlupakan. Masa remaja seringkali “dibumbui” dengan hubungan khusus dengan lawan jenis. Masa tersebut seharusnya dilewati dengan penuh sukacita, namun tak jarang beberapa orang melewatinya dengan berbagai pengalaman yang kurang menyenangkan, terutama saat mereka berpacaran.
Ada ungkapan yang menyatakan bahwa masa remaja adalah masa yang terindah dan masa yang tak terlupakan. Masa remaja seringkali “dibumbui” dengan hubungan khusus dengan lawan jenis. Masa tersebut seharusnya dilewati dengan penuh sukacita, namun tak jarang beberapa orang melewatinya dengan berbagai pengalaman yang kurang menyenangkan, terutama saat mereka berpacaran.
Rabu, 18 November 2009
Penyakit Diabetes Melitus
Penyakit Diabetes Melitus
Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh. Diabetes Mellitus / DM dikenal juga dengan sebutan penyakit gula darah atau kencing manis yang mempunyai jumpah penderita yang cukup banyak di Indonesia juga di seluruh dunia.
Pada orang yang sehat
Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh. Diabetes Mellitus / DM dikenal juga dengan sebutan penyakit gula darah atau kencing manis yang mempunyai jumpah penderita yang cukup banyak di Indonesia juga di seluruh dunia.
Pada orang yang sehat
Senin, 16 November 2009
Fungsi Hutan Mangrove
Fungsi Hutan Mangrove
FUNGSI FISIK
Secara fisik hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan dan gelombang dan angin kencang; mencegah intrusi garam (salt intrution) ke arah darat;
FUNGSI FISIK
Secara fisik hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan dan gelombang dan angin kencang; mencegah intrusi garam (salt intrution) ke arah darat;
Kejahatan Money Loundering
Kejahatan Money Loundering
Kejahatan Money Loundering pada awalnya selalu terkait dengan masalah perdagangan narkoba, namun sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1930, yaitu terkait dengan perusahaan Loundry atau perusahaan pencucian pakaian yang dibeli oleh mafia di Amerika Serikat dengan menggunakan dana dari usaha gelap atau illegal mereka seperti usaha perjudian, prestitusi, minumana keras,
Kejahatan Money Loundering pada awalnya selalu terkait dengan masalah perdagangan narkoba, namun sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1930, yaitu terkait dengan perusahaan Loundry atau perusahaan pencucian pakaian yang dibeli oleh mafia di Amerika Serikat dengan menggunakan dana dari usaha gelap atau illegal mereka seperti usaha perjudian, prestitusi, minumana keras,
Minggu, 15 November 2009
Sistem produksi jagung pada ekologi lahan kering
Sistem produksi jagung pada ekologi lahan kering
Sistem produksi pada lahan kering relatif masih sederhana. Beberapa hal yang menyebabkan lambatnya pengembangan jagung pada lahan kering, antara lain: (1) tanaman jagung belum menjadi prioritas, hanya sebagai tanaman sela untuk konsumsi keluarga, (2) pertanaman jagung pada lahan kering sangat tergantung pola curah hujan, sedangkan curah hujan
Sistem produksi pada lahan kering relatif masih sederhana. Beberapa hal yang menyebabkan lambatnya pengembangan jagung pada lahan kering, antara lain: (1) tanaman jagung belum menjadi prioritas, hanya sebagai tanaman sela untuk konsumsi keluarga, (2) pertanaman jagung pada lahan kering sangat tergantung pola curah hujan, sedangkan curah hujan
Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis
Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis.
Tujuan Rekam Medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam
rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan . Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan
rekam medis yang baik dan benar , maka tertib administrasi tidak akan berhasil
Kegunaan Rekam Medis antara lain:
1. Aspek Administrasi
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi ,
Tujuan Rekam Medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam
rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan . Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan
rekam medis yang baik dan benar , maka tertib administrasi tidak akan berhasil
Kegunaan Rekam Medis antara lain:
1. Aspek Administrasi
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi ,
Sabtu, 14 November 2009
Penelitian Tindakan Kelas : MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA LISAN ANAK DIDIK MELALUI METODE BERCERITA PADA KELOMPOK B DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH VII PURNAMANDALA KECAMATAN WONOSOBO KABUPATEN WONOSOBO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009 – 2010
IN ENGLISH VERSION CLIK HERE
ABSTRAK
Kemampuan berbahasa lisan di kelas B TK Aisyiyah VII Purnamandala masih rendah, hanya 40 % siswa yang memiliki kemampuan berbahasa lisan tinggi. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan berbahasa lisan, secara khusus mengetahui seberapa besar kemampuan berbahasa lisan melalui penerapan / penggunaan metode bercerita. Rumusan masalah pada penelitian ini bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbahasa lisan melalui penerapan / penggunaan metode bercerita di TK Aisyiyah VII Purnamandala.
Penelitian ini dilaksanakan Kelas B di TK Aisyiyah VII Purnamandala Kecamatan Wonosobo Tahun Pelajaran 2009 / 2010. Subyek penelitian 23 anak didik terdiri laki-laki 13 anak dan perempuan 10 anak. Penelitian dilakukan selama 2 (dua) siklus dengan prosedur umum meliputi tahapan 1) Planning yaitu merencanakan tindakan yang akan dilakukan, 2) Acting yitu melaksanakan tindakan rencana, 3) Observasi yaitu melakukan pengamatan kemampuan berbahasa lisan dan, 4) Reflecting yaitu melakukan analisis kekuatan dan kelemahan perbaikan pembelajaran. Data penelitian ini adalah data kemampuan berbahasa lisan anak didik, instrumen pengambilan data dengan lembar pengamatan dan teknik pengumpulan data melalui observasi. Teknik analisis data dengan menggunakan metode deskriptif kompartif yaitu membandingkan pra siklus dan antar siklus.
Berdasarkan analisis data diperoleh hasil pada pra siklus : kemampuan berbahasa lisan 10 anak didik kategori tinggi, 8 anak didik kategori sedang dan 5 anak didik kategori rendah. Siklus I kemampuan berbahasa lisan 14 anak didik kategori tinggi 5 anak didik kategori sedang dan 4 anak didik kategori rendah.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan / penggunaan metode, bercerita dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan. Selain hal tersebut ada persepsi dn kesan siswa yang signifikan terahadap penerapan / penggunaan metode bercerita. Selain itu sekolah, pengambil kebijakan, peneliti lain dapat menggunakan sebagai bahan kajian untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang perbaikan pembelajaran guna meningkatkan kualitas poses belajar mengajar.
KATA KUNCI : Kemampuan berbahasa lisan, metode berceramah.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Taman Kanak-Kanak Aisyiyah VII Purnamandala terletak di Perumahan Purnamandala Blok M-15 Kelurahan Bumireso Wonosobo, merupakan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah termuda di Kec. Wonosobo karena baru berdiri pada tahun 2007. Meskipun masih baru TK Aisyiyah VII Purnamandala telah memiliki sarana dan prasarana serta fasilitas pembelajaran yang memadai, keadaan fisik dan lingkungan yang kondusif, bahkan diawal berdirinya telah memiliki gedung sendiri dengan arena permainan yang cukup luas. Dukungan pengurus dan masyarakat terus mengalir baik berupa pemikiran, pendanaan maupun dukungan lain dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah.
Namun demikian bila ditinjau dari hasil belajar anak didik belum sesuai harapan guru maupun orang tua sebagai user pendidikan berdasarkan hasil observasi dan refleksi diri ada beberapa masalah yang terjadi di TK Aisyiyah VII Purnamandala, yaitu adanya anak yang belum memahami konsep bilangan, anak-anak yang belum memahami huruf, anak-anak yang belum bisa bersosialisasi dengan teman sebaya dan rendahnya kemampuan anak didik dalam berbahasa lisan. Bila masalah ini tidak segera mandapat solusi maka sangatlah sulit hasil belajar anak didik mencapai prestasi yang memuaskan. Mengingat Taman Kanak-Kanak merupakan pendidikan yang disebut pra sekolah atau PAUD formal. Menurut Luluk Asmawati, pendidikan anak usia dini merupakan bentuk pendidikan yang fundamental dalam kehidupan seorang anak yang pendidikan pada masa ini sangat menentukan keberlangsungan anak itu sendiri juga bagi suatu bangsa. Oleh karena itu anak usia dini merupakan aset dan investasi masa depan bagi suatu bangsa. Bangsa Indonesia dua puluh lima tahun ke depan sangat bergantung pada anak–anak usia dini yang ada pada masa sekarang. Kita tidak dapat memungkiri bahwa pendidikan anak usia dini perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari semua pihak baik, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak lain yang terkait dan memiliki perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia di masa datang. Oleh karena itu, kebijakan dan standarisasi teknis pendidikan untuk anak usia dini perlu dibuat dan disusun dengan pemikiran yang matang dan menyeluruh.
Bertitik tolak pada identifikasi masalah dan mengertian di atas berdasarkan analisis kemampuan dan daya dukung yang ada maka masalah yang segera mendapat solusi adalah rendahnya kemampuan berbahasa lisan. Mengingat kemampuan berbahasa lisan merupakan hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Usia 3-4 tahun, sampai menjelang 12 tahun, merupakan waktu yang tepat bagi anak untuk menguasai bahasa kedua dengan lancar dan sesuai dengan pembicara asli. (Ladefoged, 1969 dan Flege 1981 dalam bredekamp, 1996).
Kenyataan yang terjadi di TK Aisyiyah VII Purnamandala pola bermain dan belajar mulai luntur. Masyarakat, orang tua, sekolah bahkan sekolah dasar sebagai user pemahaman pendidikan di TK mulai bergeser. Ironisnya penilaian pendidikan Taman Kanak-Kanak dikatakan bermutu jika out put anak didiknya mampu memiliki kompetensi berhitung, membaca dan menulis secara lancar anehnya lagi, ada suatu sekolah dasar memberlakukan calon anak didik baru dengan melakukan tes kemampuan berhitung, membaca dan menulis tingkat tinggi tanpa memperhatikan karakteristik perkembangan anak didik usia 5-7 tahun.
Seiring dengan perubahan kurikulum, bahwa kurikulum berbasis kompetensi menekankan pembelajaran bermakna, yaitu melalui pendekatan konstekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) yang merupakan konsepsi membantu guru mengkaitkan konten materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan mendorong anak didik mengkaitkan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan anak didik (E. Mulyasa, 2004 : 4). Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbahasa lisan anak didik terhadap perkembangan motoriknya, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas melalui penerapan / penggunaan metode bercerita. Dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat mengatasi masalah rendahnya kemampuan berbahasa lisan anak didik dan dapat memberikan kontribusi pada anak didik sehingga meningkatkan kompetensinya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan indentifikasi masalah diatas, maka rumusan perbaikan pembelajaran melalui tindakan kelas ini sebagai berikut :
1. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbahasa lisan melalui penerapan / penggunaan metode bercerita di TK ?
2. Bagaimanakah aktivitas anak didik terhadap penerapan / penggunaan metode bercerita di TK ?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan, secara khusus berkaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini untuk :
1. Mengetahui seberapa besar kemampuan berbahasa lisan anak didik TK Aisyiyah VII Pernamandala melalui penerapan / penggunaan metode bercerita.
2. Menyimpulkan aktivitas anak didik tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menerapan / penggunan metode bercerita.
Manfaat Penelitian
Penelitian yang baik harus melahirkan suatu manfaat, tidak menjadi persoalan apakah manfaat yang dihasilkan itu manfaat praktis dan berjangka pendek ataupun manfaat secara teoritis dan hanya bisa dilihat mujudnya jauh dimasa depan. Demikian pula penelitian perbaikan pembelajaran ini, setelah menerapkan / penggunaan kegiatan bercerita, secara umum diharapkan dapat bermanfaat bagi :
a. Anak Didik
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi anak didik meningkatkan kemampuan berbahasa lisan.
b. Guru
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi guru, yaitu :
1. Memperbaiki kinerja guru dalam perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan.
2. Guru dapat berkembang secara profesional karena dapat menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya
3. Guru lebih percaya diri, jika PTK mampu membuat guru berkembang sebagai pekerja profesional, maka sebagai kosekuensinya, PTK juga mampu membuat guru lebih percaya diri.
4. Guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.
c. Sekolah
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi sekolah, yaitu :
1. Meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswa
2. Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan profesional para guru, perbaikan proses dan hasil belajar siswa, serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah tersebut.
3. Memberikan kontribusi yang baik dalam peningkatan proses pembelajaran untuk semua mata pelajaran.
d. Pendidikan
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi pendidikan, yaitu :
1. Memberikan landasan dan argumentasi bagi kebijakan yang akan diambil guna peningkatan mutu pendidikan
2. Sebagai bahan kajian untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang perbaikan pembelajaran guna meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
KAJIAN PUSTAKA
Kerangka Teori
1. Kemampuan Berbahasa Lisan
Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek–aspek sebagai berikut : a) Moral, nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian, b) bahasa, c). kognitif, d) fisik / motorik dan e) seni. Pada penelitian ini aspek yang akan digunakan untuk perbaikan pembelajaran adalah aspek bahasa.
Dalam kerangka dasar kurikulum 2004, menyebutkan pengertian kemampuan atau kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Depdiknas, 2004 : 2). Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikator yang dapat diukur dan diamati, kemampuan dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara konstekstual. Pengertian kompetensi menurut E. Mulyasa, menyatakan bahwa kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (E. Mulyasa, 2002 : 37).
Pengertian berbahasa lisan dikutip dari Ensi Klopedia bebas (23 Juli 2009) berbahasa lisan adalah suatu bentuk komunikasi yang unik dijumpai pada manusia yang menggunakan kata-kata yang diturunkan dari kosa kata.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia berbahasa lisan sama dengan bahasa percakapan.
2. Metode Bercerita
Pengertian metode bercerita dikutip dari Winda Gunarti (2008 : 5.3). Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan suatu pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang bisa dilakukan secara lisan atau tertulis. Cara penuturan cerita tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga atau tanpa alat peraga.
Menurut RUA Zainal Fanani (2007) mengemukakan bahwa bercerita / mendongeng adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Melalui cerita-cerita / dongeng yang baik, sesungguhnya anak-anak tidak hanya memperoleh kesenangan atau hiburan saja, tetapi mendapatkan pendidikan yang jauh lebih luas, bahkan tidak berlebihan bila dikatakan bahwa cerita ternyata menyentuh berbagai aspek pembentukan kepribadian anak-anak. Cerita secara faktual erat sekali hubungannya dengan pembentukan karakter, bukan saja karakter manusia secara individual, tetapi juga karakter manusia dalam sebuah bangsa. Tidak heran bila banyak pakar kebudayaan yang menyatakan bahwa nilai jati diri, karakter dan kepribadian sebuah bangsa dapat dilihat dari cerita. Cerita rakyat yang hidup di bangsa itu. Kalau begitu, jelas bercerita bukanlah suatu yang berakibat sederhana. Cerita berpengaruh amat besar dalam jangka panjang, sampai–sampai dikatakan menjadi faktor dominan bagi bangunan karakter manusia di suatu bangsa.
3. Anak Didik
Dalam kamus besar bahasa Indonesia anak didik adalah seorang yang diasuh orang lain.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian kerangka teori di atas, maka hipotensis tindakan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Penerapan / penggunaan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan.
2. Ada aktivitas anak didik yang signifikan terhadap penerapan / penggunaan metode bercerita.
Kriteria Keberhasilan
Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan kemampuan berbahasa lisan adalah kemampuan anak didik dalam 1) Menyimak / mendengarkan cerita, 2) Menjawab pertanyaan tentang isi cerita yang telah disajikan, 3) Memberikan komentar atas pendapat tentang permasalahan yang muncul pada cerita tersebut, 4) Menyebutkan dan menceritakan perbedaan dua benda, 5) Bercerita tentang gambar yang sudah dibuat sendiri, 6) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri. 7) Mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda dimasukkan ke dalam air 8) Menceritakan pengalaman / kejadian secara sederhana dengan urut. 9) Bercerita menggunakan kata ganti aku, saya 10) Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut dengan kriteria skor 75-85 tinggi, skor 60-74 sedang dan skor 50-64 rendah. Setelah pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilakukan 2 siklus, maka indikator keberhasilan sebagai berikut :
1. Perbaikan pembelajaran kemampuan berbahasa lisan dinyatakan berhasil jika 75% anak didik memiliki kemampuan berbahasa lisan tinggi.
2. Aktivitas anak didik terhadap penerapan / penggunakan metode bercerita dinyatakan berhasil, jika 75% anak didik menyatakan tinggi / baik.
PELAKSANAAN PERBAIKAN
Subyek Penelitian
1. Subyek perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini adalah anak didik kelompok B TK Aisyiyah VII Purnamandala, dengan jumlah 23 anak didik, terdiri dari 10 perempuan dan 13 laki-laki dan karakateristik anak didik memiliki kemampuan dan potensi yang heterogen.
2. Setting Penelitian
Setting perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas pada kemampuan dasar bahasa dilakukan di TK Aisyiyah VII Purnamandala, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo. TK Aisyiyah VII Purnamandala tersebut tempat peneliti melaksanakan tugas mengajar sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
3. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 2 siklus, sebagai berikut :
Siklus I
a. Hari / Tanggal : Senin, tanggal 5 Oktober s/d Jum’at,
Tanggal 9 Oktober 2009
b. Kemampuan Dasar : Bahasa
c. Tema : Kebutuhanku
Siklus II
a. Hari / Tanggal : Senin, 12 Oktober s/d Jum’at, tanggal
16 Oktober 2009
b. Kemampuan Dasar : Bahasa
c. Tema : Kebutuhanku
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Diskripsi Per Siklus
1. Siklus I
Dalam perbaikan pembelajaran ini ingin mengetahui seberapa besar kemampuan berbahasa lisan anak didik dan mengumpulkan data aktifitas anak didik tentang pelaksanaan perbaikan kegiatan pengembangan dengan penerapan / penggunaan metode bercerita. Data yang digunakan analisis penelitian ini berupa skor pengamatan dan diinterpretasikan dalam analisis kualitatif berupa tinggi, sedang dan rendah.
Setelah melaksanakan perbaikan kegiatan pengembangan siklus I diperoleh data tentang kemampuan berbahasa lisan diambil setelah melakukan perbaikan kegiatan pengembangan pada akhir siklus. Instrumen data berupa lembar pengamatan yang terdiri dari 10 aspek yaitu : 1) Anak tampak asik menyimak / mendengarkan cerita 2) Anak mampu menjawab pertanyaan tentang isi cerita yang telah disajikan 3) Anak dapat memberikan komentar / pendapat tentang permasalahan yang muncul pada cerita tersebut. 4) Anak dapat mendengarkan mendengarkan dan mencerita kembali cerita secara urut. 5) Menceritakan pengelaman / kejadian secara sederhana dengan urut 6) Bercerita menggunakan kata ganti aku, saya. 7) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri 8) Bercerita tentang gambar yang disdiakan atau yang dibuat sendiri 9) Mmeabca buku cerita bergambar yang memiliki kalimat yang sederhana dan menceritakan isi buku dengan menunjuk beberapa kata yang dikenalinya. 10) Membuat gambar dan menceritakan isi gambar dengan beberapa coretan / tulisan yang sudah berbentuk huruf.
Hasil lembar pengamatan kemampuan berbahasa lisan diperoleh hasil sebagai berikut : skor tertinggi 10, skor terendah 4, skor rerata 6,4 skor modus 7 maih ada 14 siswa (60%) yang mendapat skor dibawah rata-rata. Bila data tersebut diinterpretasikan dalam kategori kemampuan berbahasa lisan tinggi, sedang dan rendah diperoleh hasil sebagai berikut : kemampuan berbahasa lisan skor 8-10 kategori tinggi kemampuan berbahasa lisan skor 4-7, kategori sedang dan kemampuan berbahasa lisan skor 1-3 kategori rendah. Dari tabel diatas diperoleh data sebagai berikut : pada siklus I : kemampuan berbahasa lisan 7 anak didik kategori tinggi,14 anak didik kategori sedang dan 2 anak didik kategori rendah.
ABSTRAK
Kemampuan berbahasa lisan di kelas B TK Aisyiyah VII Purnamandala masih rendah, hanya 40 % siswa yang memiliki kemampuan berbahasa lisan tinggi. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan berbahasa lisan, secara khusus mengetahui seberapa besar kemampuan berbahasa lisan melalui penerapan / penggunaan metode bercerita. Rumusan masalah pada penelitian ini bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbahasa lisan melalui penerapan / penggunaan metode bercerita di TK Aisyiyah VII Purnamandala.
Penelitian ini dilaksanakan Kelas B di TK Aisyiyah VII Purnamandala Kecamatan Wonosobo Tahun Pelajaran 2009 / 2010. Subyek penelitian 23 anak didik terdiri laki-laki 13 anak dan perempuan 10 anak. Penelitian dilakukan selama 2 (dua) siklus dengan prosedur umum meliputi tahapan 1) Planning yaitu merencanakan tindakan yang akan dilakukan, 2) Acting yitu melaksanakan tindakan rencana, 3) Observasi yaitu melakukan pengamatan kemampuan berbahasa lisan dan, 4) Reflecting yaitu melakukan analisis kekuatan dan kelemahan perbaikan pembelajaran. Data penelitian ini adalah data kemampuan berbahasa lisan anak didik, instrumen pengambilan data dengan lembar pengamatan dan teknik pengumpulan data melalui observasi. Teknik analisis data dengan menggunakan metode deskriptif kompartif yaitu membandingkan pra siklus dan antar siklus.
Berdasarkan analisis data diperoleh hasil pada pra siklus : kemampuan berbahasa lisan 10 anak didik kategori tinggi, 8 anak didik kategori sedang dan 5 anak didik kategori rendah. Siklus I kemampuan berbahasa lisan 14 anak didik kategori tinggi 5 anak didik kategori sedang dan 4 anak didik kategori rendah.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan / penggunaan metode, bercerita dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan. Selain hal tersebut ada persepsi dn kesan siswa yang signifikan terahadap penerapan / penggunaan metode bercerita. Selain itu sekolah, pengambil kebijakan, peneliti lain dapat menggunakan sebagai bahan kajian untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang perbaikan pembelajaran guna meningkatkan kualitas poses belajar mengajar.
KATA KUNCI : Kemampuan berbahasa lisan, metode berceramah.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Taman Kanak-Kanak Aisyiyah VII Purnamandala terletak di Perumahan Purnamandala Blok M-15 Kelurahan Bumireso Wonosobo, merupakan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah termuda di Kec. Wonosobo karena baru berdiri pada tahun 2007. Meskipun masih baru TK Aisyiyah VII Purnamandala telah memiliki sarana dan prasarana serta fasilitas pembelajaran yang memadai, keadaan fisik dan lingkungan yang kondusif, bahkan diawal berdirinya telah memiliki gedung sendiri dengan arena permainan yang cukup luas. Dukungan pengurus dan masyarakat terus mengalir baik berupa pemikiran, pendanaan maupun dukungan lain dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah.
Namun demikian bila ditinjau dari hasil belajar anak didik belum sesuai harapan guru maupun orang tua sebagai user pendidikan berdasarkan hasil observasi dan refleksi diri ada beberapa masalah yang terjadi di TK Aisyiyah VII Purnamandala, yaitu adanya anak yang belum memahami konsep bilangan, anak-anak yang belum memahami huruf, anak-anak yang belum bisa bersosialisasi dengan teman sebaya dan rendahnya kemampuan anak didik dalam berbahasa lisan. Bila masalah ini tidak segera mandapat solusi maka sangatlah sulit hasil belajar anak didik mencapai prestasi yang memuaskan. Mengingat Taman Kanak-Kanak merupakan pendidikan yang disebut pra sekolah atau PAUD formal. Menurut Luluk Asmawati, pendidikan anak usia dini merupakan bentuk pendidikan yang fundamental dalam kehidupan seorang anak yang pendidikan pada masa ini sangat menentukan keberlangsungan anak itu sendiri juga bagi suatu bangsa. Oleh karena itu anak usia dini merupakan aset dan investasi masa depan bagi suatu bangsa. Bangsa Indonesia dua puluh lima tahun ke depan sangat bergantung pada anak–anak usia dini yang ada pada masa sekarang. Kita tidak dapat memungkiri bahwa pendidikan anak usia dini perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari semua pihak baik, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak lain yang terkait dan memiliki perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia di masa datang. Oleh karena itu, kebijakan dan standarisasi teknis pendidikan untuk anak usia dini perlu dibuat dan disusun dengan pemikiran yang matang dan menyeluruh.
Bertitik tolak pada identifikasi masalah dan mengertian di atas berdasarkan analisis kemampuan dan daya dukung yang ada maka masalah yang segera mendapat solusi adalah rendahnya kemampuan berbahasa lisan. Mengingat kemampuan berbahasa lisan merupakan hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Usia 3-4 tahun, sampai menjelang 12 tahun, merupakan waktu yang tepat bagi anak untuk menguasai bahasa kedua dengan lancar dan sesuai dengan pembicara asli. (Ladefoged, 1969 dan Flege 1981 dalam bredekamp, 1996).
Kenyataan yang terjadi di TK Aisyiyah VII Purnamandala pola bermain dan belajar mulai luntur. Masyarakat, orang tua, sekolah bahkan sekolah dasar sebagai user pemahaman pendidikan di TK mulai bergeser. Ironisnya penilaian pendidikan Taman Kanak-Kanak dikatakan bermutu jika out put anak didiknya mampu memiliki kompetensi berhitung, membaca dan menulis secara lancar anehnya lagi, ada suatu sekolah dasar memberlakukan calon anak didik baru dengan melakukan tes kemampuan berhitung, membaca dan menulis tingkat tinggi tanpa memperhatikan karakteristik perkembangan anak didik usia 5-7 tahun.
Seiring dengan perubahan kurikulum, bahwa kurikulum berbasis kompetensi menekankan pembelajaran bermakna, yaitu melalui pendekatan konstekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) yang merupakan konsepsi membantu guru mengkaitkan konten materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan mendorong anak didik mengkaitkan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan anak didik (E. Mulyasa, 2004 : 4). Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbahasa lisan anak didik terhadap perkembangan motoriknya, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas melalui penerapan / penggunaan metode bercerita. Dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat mengatasi masalah rendahnya kemampuan berbahasa lisan anak didik dan dapat memberikan kontribusi pada anak didik sehingga meningkatkan kompetensinya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan indentifikasi masalah diatas, maka rumusan perbaikan pembelajaran melalui tindakan kelas ini sebagai berikut :
1. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbahasa lisan melalui penerapan / penggunaan metode bercerita di TK ?
2. Bagaimanakah aktivitas anak didik terhadap penerapan / penggunaan metode bercerita di TK ?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan, secara khusus berkaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini untuk :
1. Mengetahui seberapa besar kemampuan berbahasa lisan anak didik TK Aisyiyah VII Pernamandala melalui penerapan / penggunaan metode bercerita.
2. Menyimpulkan aktivitas anak didik tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menerapan / penggunan metode bercerita.
Manfaat Penelitian
Penelitian yang baik harus melahirkan suatu manfaat, tidak menjadi persoalan apakah manfaat yang dihasilkan itu manfaat praktis dan berjangka pendek ataupun manfaat secara teoritis dan hanya bisa dilihat mujudnya jauh dimasa depan. Demikian pula penelitian perbaikan pembelajaran ini, setelah menerapkan / penggunaan kegiatan bercerita, secara umum diharapkan dapat bermanfaat bagi :
a. Anak Didik
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi anak didik meningkatkan kemampuan berbahasa lisan.
b. Guru
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi guru, yaitu :
1. Memperbaiki kinerja guru dalam perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan.
2. Guru dapat berkembang secara profesional karena dapat menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya
3. Guru lebih percaya diri, jika PTK mampu membuat guru berkembang sebagai pekerja profesional, maka sebagai kosekuensinya, PTK juga mampu membuat guru lebih percaya diri.
4. Guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.
c. Sekolah
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi sekolah, yaitu :
1. Meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswa
2. Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan profesional para guru, perbaikan proses dan hasil belajar siswa, serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah tersebut.
3. Memberikan kontribusi yang baik dalam peningkatan proses pembelajaran untuk semua mata pelajaran.
d. Pendidikan
Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini, manfaat bagi pendidikan, yaitu :
1. Memberikan landasan dan argumentasi bagi kebijakan yang akan diambil guna peningkatan mutu pendidikan
2. Sebagai bahan kajian untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang perbaikan pembelajaran guna meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
KAJIAN PUSTAKA
Kerangka Teori
1. Kemampuan Berbahasa Lisan
Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek–aspek sebagai berikut : a) Moral, nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian, b) bahasa, c). kognitif, d) fisik / motorik dan e) seni. Pada penelitian ini aspek yang akan digunakan untuk perbaikan pembelajaran adalah aspek bahasa.
Dalam kerangka dasar kurikulum 2004, menyebutkan pengertian kemampuan atau kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Depdiknas, 2004 : 2). Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikator yang dapat diukur dan diamati, kemampuan dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara konstekstual. Pengertian kompetensi menurut E. Mulyasa, menyatakan bahwa kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (E. Mulyasa, 2002 : 37).
Pengertian berbahasa lisan dikutip dari Ensi Klopedia bebas (23 Juli 2009) berbahasa lisan adalah suatu bentuk komunikasi yang unik dijumpai pada manusia yang menggunakan kata-kata yang diturunkan dari kosa kata.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia berbahasa lisan sama dengan bahasa percakapan.
2. Metode Bercerita
Pengertian metode bercerita dikutip dari Winda Gunarti (2008 : 5.3). Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan suatu pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang bisa dilakukan secara lisan atau tertulis. Cara penuturan cerita tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga atau tanpa alat peraga.
Menurut RUA Zainal Fanani (2007) mengemukakan bahwa bercerita / mendongeng adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Melalui cerita-cerita / dongeng yang baik, sesungguhnya anak-anak tidak hanya memperoleh kesenangan atau hiburan saja, tetapi mendapatkan pendidikan yang jauh lebih luas, bahkan tidak berlebihan bila dikatakan bahwa cerita ternyata menyentuh berbagai aspek pembentukan kepribadian anak-anak. Cerita secara faktual erat sekali hubungannya dengan pembentukan karakter, bukan saja karakter manusia secara individual, tetapi juga karakter manusia dalam sebuah bangsa. Tidak heran bila banyak pakar kebudayaan yang menyatakan bahwa nilai jati diri, karakter dan kepribadian sebuah bangsa dapat dilihat dari cerita. Cerita rakyat yang hidup di bangsa itu. Kalau begitu, jelas bercerita bukanlah suatu yang berakibat sederhana. Cerita berpengaruh amat besar dalam jangka panjang, sampai–sampai dikatakan menjadi faktor dominan bagi bangunan karakter manusia di suatu bangsa.
3. Anak Didik
Dalam kamus besar bahasa Indonesia anak didik adalah seorang yang diasuh orang lain.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian kerangka teori di atas, maka hipotensis tindakan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Penerapan / penggunaan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan.
2. Ada aktivitas anak didik yang signifikan terhadap penerapan / penggunaan metode bercerita.
Kriteria Keberhasilan
Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan kemampuan berbahasa lisan adalah kemampuan anak didik dalam 1) Menyimak / mendengarkan cerita, 2) Menjawab pertanyaan tentang isi cerita yang telah disajikan, 3) Memberikan komentar atas pendapat tentang permasalahan yang muncul pada cerita tersebut, 4) Menyebutkan dan menceritakan perbedaan dua benda, 5) Bercerita tentang gambar yang sudah dibuat sendiri, 6) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri. 7) Mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda dimasukkan ke dalam air 8) Menceritakan pengalaman / kejadian secara sederhana dengan urut. 9) Bercerita menggunakan kata ganti aku, saya 10) Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut dengan kriteria skor 75-85 tinggi, skor 60-74 sedang dan skor 50-64 rendah. Setelah pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilakukan 2 siklus, maka indikator keberhasilan sebagai berikut :
1. Perbaikan pembelajaran kemampuan berbahasa lisan dinyatakan berhasil jika 75% anak didik memiliki kemampuan berbahasa lisan tinggi.
2. Aktivitas anak didik terhadap penerapan / penggunakan metode bercerita dinyatakan berhasil, jika 75% anak didik menyatakan tinggi / baik.
PELAKSANAAN PERBAIKAN
Subyek Penelitian
1. Subyek perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini adalah anak didik kelompok B TK Aisyiyah VII Purnamandala, dengan jumlah 23 anak didik, terdiri dari 10 perempuan dan 13 laki-laki dan karakateristik anak didik memiliki kemampuan dan potensi yang heterogen.
2. Setting Penelitian
Setting perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas pada kemampuan dasar bahasa dilakukan di TK Aisyiyah VII Purnamandala, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo. TK Aisyiyah VII Purnamandala tersebut tempat peneliti melaksanakan tugas mengajar sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
3. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 2 siklus, sebagai berikut :
Siklus I
a. Hari / Tanggal : Senin, tanggal 5 Oktober s/d Jum’at,
Tanggal 9 Oktober 2009
b. Kemampuan Dasar : Bahasa
c. Tema : Kebutuhanku
Siklus II
a. Hari / Tanggal : Senin, 12 Oktober s/d Jum’at, tanggal
16 Oktober 2009
b. Kemampuan Dasar : Bahasa
c. Tema : Kebutuhanku
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Diskripsi Per Siklus
1. Siklus I
Dalam perbaikan pembelajaran ini ingin mengetahui seberapa besar kemampuan berbahasa lisan anak didik dan mengumpulkan data aktifitas anak didik tentang pelaksanaan perbaikan kegiatan pengembangan dengan penerapan / penggunaan metode bercerita. Data yang digunakan analisis penelitian ini berupa skor pengamatan dan diinterpretasikan dalam analisis kualitatif berupa tinggi, sedang dan rendah.
Setelah melaksanakan perbaikan kegiatan pengembangan siklus I diperoleh data tentang kemampuan berbahasa lisan diambil setelah melakukan perbaikan kegiatan pengembangan pada akhir siklus. Instrumen data berupa lembar pengamatan yang terdiri dari 10 aspek yaitu : 1) Anak tampak asik menyimak / mendengarkan cerita 2) Anak mampu menjawab pertanyaan tentang isi cerita yang telah disajikan 3) Anak dapat memberikan komentar / pendapat tentang permasalahan yang muncul pada cerita tersebut. 4) Anak dapat mendengarkan mendengarkan dan mencerita kembali cerita secara urut. 5) Menceritakan pengelaman / kejadian secara sederhana dengan urut 6) Bercerita menggunakan kata ganti aku, saya. 7) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri 8) Bercerita tentang gambar yang disdiakan atau yang dibuat sendiri 9) Mmeabca buku cerita bergambar yang memiliki kalimat yang sederhana dan menceritakan isi buku dengan menunjuk beberapa kata yang dikenalinya. 10) Membuat gambar dan menceritakan isi gambar dengan beberapa coretan / tulisan yang sudah berbentuk huruf.
Hasil lembar pengamatan kemampuan berbahasa lisan diperoleh hasil sebagai berikut : skor tertinggi 10, skor terendah 4, skor rerata 6,4 skor modus 7 maih ada 14 siswa (60%) yang mendapat skor dibawah rata-rata. Bila data tersebut diinterpretasikan dalam kategori kemampuan berbahasa lisan tinggi, sedang dan rendah diperoleh hasil sebagai berikut : kemampuan berbahasa lisan skor 8-10 kategori tinggi kemampuan berbahasa lisan skor 4-7, kategori sedang dan kemampuan berbahasa lisan skor 1-3 kategori rendah. Dari tabel diatas diperoleh data sebagai berikut : pada siklus I : kemampuan berbahasa lisan 7 anak didik kategori tinggi,14 anak didik kategori sedang dan 2 anak didik kategori rendah.
Ideologi Komunisme
Ideologi Komunisme
Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manuskrip politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah
Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manuskrip politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah
Ideologi Sosialisme
IDEOLOGI SOSIALISME
Apakah ideologi sosialisme itu? Ideologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni idea (gagasan) dan logos (studi tentang, ilmu pengetahuan tentang). Idelogi artinya sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal ideal filosofis, ekonomis, politis dan sosial. Istilah “ideologi” dipergunakan oleh Marx dan Engels mengacu kepada seperangkat keyakinan yang
Apakah ideologi sosialisme itu? Ideologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni idea (gagasan) dan logos (studi tentang, ilmu pengetahuan tentang). Idelogi artinya sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal ideal filosofis, ekonomis, politis dan sosial. Istilah “ideologi” dipergunakan oleh Marx dan Engels mengacu kepada seperangkat keyakinan yang
Ideologi Pancasila
IDEOLOGI PANCASILA
Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu idea dan logia. Idea berasal dari idein yang berarti melihat. Idea juga diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Kata logia mengandung makna ilmu pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata logos dari kata legein yaitu berbicara. Istilah
Sosial dan Budaya Papua
Sosial dan Budaya Papua
Program transmigrasi di tanah Papua menurut Drs Jhon Rahail M Kes pakar kependudukan dari PSK Uncen adalah sangat tidak demokratis karena dengan sadar pelaksana transmigrasi mencoba untuk menghilang pengetahuan tradisional masyarakat translok yang sesungguhnya harus diangkat dan dikembangkan (terkandung nilai budaya), karena memang mereka harus hidup dengan budaya asing
Program transmigrasi di tanah Papua menurut Drs Jhon Rahail M Kes pakar kependudukan dari PSK Uncen adalah sangat tidak demokratis karena dengan sadar pelaksana transmigrasi mencoba untuk menghilang pengetahuan tradisional masyarakat translok yang sesungguhnya harus diangkat dan dikembangkan (terkandung nilai budaya), karena memang mereka harus hidup dengan budaya asing
Bentuk-Bentuk Pohon
BENTUK-BENTUK POHON
Pohon adalah bentuk hidup yang utama pada hutan hujan. Bahkan tumbuhan bawah sebagian besar terdiri dari tambuhan berkayu bergentuk pohon berhutan; semak belukar yang terlihat jarang, meskipun demikian lapisan D sering dengan bebas disebut “lapisan semak belukar”
A.TAJUK
Rimbawan tertarik akan kenaikan volume kayu per ha, dan karakteristik pohon monopodial yang
Epifit, Pemanjat Dan Pencekik
Epifit, Pemanjat Dan Pencekik
EPIFIT, PEMANJAT DAN PENCEKIK
Epifit dan pemanjat dibuat stratifikasi. Di dalam masing-masing synusia dua kelompok utama dapat dikenali, suatu photophytic atau kelompok yang memerlukan matahari , menyesuaikan diri secara morfologi maupun fisiologi dengan iklim mikro dari kanopi hutan, dan skiophytic atau kelompok yang memerlukan keteduhan, menyesuaikan diri dengan
EPIFIT, PEMANJAT DAN PENCEKIK
Epifit dan pemanjat dibuat stratifikasi. Di dalam masing-masing synusia dua kelompok utama dapat dikenali, suatu photophytic atau kelompok yang memerlukan matahari , menyesuaikan diri secara morfologi maupun fisiologi dengan iklim mikro dari kanopi hutan, dan skiophytic atau kelompok yang memerlukan keteduhan, menyesuaikan diri dengan
Kamis, 12 November 2009
Tanaman Mimba (Azadirachta indica A. Juss)
Tanaman Mimba (Azadirachta indica A. Juss).
Tanaman mimba termasuk dalam famili Meliaceae, tanaman ini merupakan tanaman asli Afrika Asia.Di Asia tanaman ini banyak terdapat di India, Burma, Cina Selatan, dan Indonesia. Di Indonesia tanaman mimba dijumpai di Jawa dan Bali, terutama disepanjang pantai utara pulau Jawa seperti Subang, Cirebon, dan Indramayu (Jawa Barat), Tegal, Banjarsari, dan
Tanaman mimba termasuk dalam famili Meliaceae, tanaman ini merupakan tanaman asli Afrika Asia.Di Asia tanaman ini banyak terdapat di India, Burma, Cina Selatan, dan Indonesia. Di Indonesia tanaman mimba dijumpai di Jawa dan Bali, terutama disepanjang pantai utara pulau Jawa seperti Subang, Cirebon, dan Indramayu (Jawa Barat), Tegal, Banjarsari, dan
Gejala Serangan Nematoda
Gejala serangan nematoda terbagi atas dua kelompok:
A. Gejala serangan di atas permukaan tanah:
1. Pertumbuhan tidak normal yang diakibatkan oleh luka pada tunas, titik tumbuh, dan primordial bunga.
a) Tunas mati.
Kadang-kadang serangan nematoda menyebabkan matinya tunas atau titik tumbuh tanaman, sehingga tanaman tidak dapat hidup. Kasus ini terjadi pada tanaman strawberry yang terserang
Hormon IAA (asam indol- 3 asetat).
Hormon IAA (asam indol- 3 asetat).
Istilah auksin pertama kali digunakan oleh Frist Went seorang mahasiswa PascaSarjana di negeri Belanda pada tahun 1926 yang kini diketahui sebagai asam indol-3 asetat atau IAA (Salisbury dan Ross 1995). Senyawa ini terdapat cukup banyak di ujung koleoptil tanaman oat ke arah cahaya. Dua mekanisme sintesis IAA yaitu pelepasan gugus amino dan gugus karboksil
Istilah auksin pertama kali digunakan oleh Frist Went seorang mahasiswa PascaSarjana di negeri Belanda pada tahun 1926 yang kini diketahui sebagai asam indol-3 asetat atau IAA (Salisbury dan Ross 1995). Senyawa ini terdapat cukup banyak di ujung koleoptil tanaman oat ke arah cahaya. Dua mekanisme sintesis IAA yaitu pelepasan gugus amino dan gugus karboksil
Hormon tumbuhan.
Hormon tumbuhan.
Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah “hormon” sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini
Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah “hormon” sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini
Hormon ABA (Asam absisat).
Hormon ABA (Asam absisat).
Semua jaringan tanaman terdapat hormon ABA yang dapat dipisahkan secara kromatografi Rf 0.9. Senyawa tersebut merupakan inhibitor B –kompleks. Senyawa ini mempengaruhi proses pertumbuhan, dormansi dan absisi. Beberapa peneliti akhirnya menemukan senyawa yang sama yaitu asam absisat (ABA). Peneliti tersebut yaitu Addicott et al dari California USA pada tahun 1967
Semua jaringan tanaman terdapat hormon ABA yang dapat dipisahkan secara kromatografi Rf 0.9. Senyawa tersebut merupakan inhibitor B –kompleks. Senyawa ini mempengaruhi proses pertumbuhan, dormansi dan absisi. Beberapa peneliti akhirnya menemukan senyawa yang sama yaitu asam absisat (ABA). Peneliti tersebut yaitu Addicott et al dari California USA pada tahun 1967
Game Facebook Yang Paling Diminati
Game Facebook Yang Paling Diminati.
Salah satu kelebihan facebook yang membedakan dengan situs jejaring lainnya adalah fasilitas aplikasi game yang bermacam-macam. Disediakan dengan maksud untuk membuat kenyamanan kepada para pengguna facebook sendiri, serta untuk menjangkau eksistensi Facebook ke semua kalangan dan dimaksudkan untuk menghilangkan kejenuhan. Berikut ini adalah daftar 10 game
Salah satu kelebihan facebook yang membedakan dengan situs jejaring lainnya adalah fasilitas aplikasi game yang bermacam-macam. Disediakan dengan maksud untuk membuat kenyamanan kepada para pengguna facebook sendiri, serta untuk menjangkau eksistensi Facebook ke semua kalangan dan dimaksudkan untuk menghilangkan kejenuhan. Berikut ini adalah daftar 10 game
Rabu, 11 November 2009
Metode Mengajar Ceramah
Metode Mengajar Ceramah.
Metode ceramah yaitu metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Muhibbin Syah, 200). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai
Metode ceramah yaitu metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Muhibbin Syah, 200). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai
Senin, 09 November 2009
Bagaimana Proses penyembuhan luka
Bagaimana Proses penyembuhan luka.
Jaringan yang rusak atau cedera harus diperbaiki, baik melalui regenerasi sal atau pembentukan jaringan parut. Tujuan dari kedua jenis perbaikan tersebut adalah untuk mengisi daerah yang rusak agar integritas struktural jaringan pulih kembali. Kedua proses diatas dikenal sebagai proses penyembuhan luka. Lebih Lnjut dikatakan proses penyembuhan luka merupakan
Jaringan yang rusak atau cedera harus diperbaiki, baik melalui regenerasi sal atau pembentukan jaringan parut. Tujuan dari kedua jenis perbaikan tersebut adalah untuk mengisi daerah yang rusak agar integritas struktural jaringan pulih kembali. Kedua proses diatas dikenal sebagai proses penyembuhan luka. Lebih Lnjut dikatakan proses penyembuhan luka merupakan
Memahami Matematika
Memahami Matematika.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan dan cara mendidik. Menurut John Dewey, pendidikan diartikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan dan cara mendidik. Menurut John Dewey, pendidikan diartikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional
Minggu, 08 November 2009
Penyakit Tanaman (Fitopathology)
Penyakit Tanaman (Fitopathology).
Kehidupan mahluk di dunia ini selalu tergantung dari dunia tumbuhan secara langsung maupun tidak langsung. Tumbuhan dapat memanfaatkan sumber energi matahari dan mengolahnya bersama, zat-zat lainnya menjadi zat makanan yang sangat berguna untuk mahluk hidup. Selain tumbuhan dapat menghasilkan bahan pangan bagi rnanusia dan mahluk lainnya, juga melengkapi
Kehidupan mahluk di dunia ini selalu tergantung dari dunia tumbuhan secara langsung maupun tidak langsung. Tumbuhan dapat memanfaatkan sumber energi matahari dan mengolahnya bersama, zat-zat lainnya menjadi zat makanan yang sangat berguna untuk mahluk hidup. Selain tumbuhan dapat menghasilkan bahan pangan bagi rnanusia dan mahluk lainnya, juga melengkapi
Pentingnya perlindungan tanaman terhadap penyakit tumbuhan.
Pentingnya perlindungan tanaman terhadap penyakit tumbuhan.
Gangguan terhadap tanaman telah terjadi sejak berabad-abad lamanya. Dalam sejarah telah tercatat berbagai kejadian yang telah mempengaruhi perekonomian negara seperti antara lain.
1).Penyakit daun kentang (Phytophtora infestans) di Irlandia pada pertengahan abad ke 19.
2).Penyakit karat daun kopi (Hemileia vastatrix) di Srilangka,
Gangguan terhadap tanaman telah terjadi sejak berabad-abad lamanya. Dalam sejarah telah tercatat berbagai kejadian yang telah mempengaruhi perekonomian negara seperti antara lain.
1).Penyakit daun kentang (Phytophtora infestans) di Irlandia pada pertengahan abad ke 19.
2).Penyakit karat daun kopi (Hemileia vastatrix) di Srilangka,
Kurikulum 1994
Kurikulum 1994.
Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada
Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada
FUNGSI DAN PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
FUNGSI DAN PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH.
Apabila kita memasuki suatu perpustakaan, yang kita lihat pertama adalah jajaran buku dan bahan pustaka lain yang diatur secara rapih di rak buku,rak majalah, maupun rakrak bahan pustaka lain. Bahan-bahan pustaka tersebut diatur menurut suatu sistem tertentu sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk menemukan kembali bahan pustaka yang diperlukan.
Apabila kita memasuki suatu perpustakaan, yang kita lihat pertama adalah jajaran buku dan bahan pustaka lain yang diatur secara rapih di rak buku,rak majalah, maupun rakrak bahan pustaka lain. Bahan-bahan pustaka tersebut diatur menurut suatu sistem tertentu sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk menemukan kembali bahan pustaka yang diperlukan.
Faktor pembatas dibidang produksi pertanian.
Faktor pembatas dibidang produksi pertanian.
Untuk memenuhi kebutuhan akan bahan pangan saja untuk penduduk dunia yang berjumlah 3 milyar pada waktu sekarang kita telah mendapat kesulitan dan kita sudah dapat membayangkan kesulitan yang akan kita hadapi pada tahun 2000 nanti dimana penduduk dunia sudah meningkat lagi sampai sekitar 5 milyar jumlahnya sedang luas areal pertanian makin terbatas.
Untuk memenuhi kebutuhan akan bahan pangan saja untuk penduduk dunia yang berjumlah 3 milyar pada waktu sekarang kita telah mendapat kesulitan dan kita sudah dapat membayangkan kesulitan yang akan kita hadapi pada tahun 2000 nanti dimana penduduk dunia sudah meningkat lagi sampai sekitar 5 milyar jumlahnya sedang luas areal pertanian makin terbatas.
Sabtu, 07 November 2009
Proposal Penelitian Tindakan Kelas Matematika : PENGGUNAAN METODE DRILL UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA KONSEP PENGURANGAN DENGAN MEMINJAM DI KELAS II SD 2 LENGKONG KECAMATAN GARUNG KABUPATEN WONOSOBO
IN ENGLISH VERSION CLIK HERE
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sudah berkembang pesat pada saat sekarang ini, baik materi maupun kegunaannya. Dengan menguasai pengetahuan Matematika khususnya siswa di sekolah, memungkinkan siswa akan lebih mudah dalam menerima pengetahuan ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang semakin pesat, baik langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan. Oleh karena itu mutu pendidikan harus ditingkatkan terutama ilmu ”berhitung” atau ”Matematika”, peranan Matematika dalam kehidupan telah membawa kehidupan manusia ke zaman teknologi modern.
Begitu pentingnya peranan Matematika terhadap masa depan bangsa, maka pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan mutu pelajaran Matematika dengan berbagai upaya misalnya dengan pemberian alat peraga, buku paket, olympiade Matematika, serta penyempurnaan kurikulum, siswa atau anak didik sebagai individu yang potensial tidak dapat berkembang banyak tanpa bantuan sebagai pembimbing berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan maka perlu adanya perbaikan, pembaharuan, serta perubahan dalam segala aspek diantaranya kurikulum, sarana dan prasarana, guru, siswa serta metode pengajaran.
Pembelajaran Matematika di SD N 2 Lengkong khususnya di kelas II, sering mengalami hambatan dan kesulitan terutama dalam pencapaian hasil belajar yang diharapkan, hal itu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Banyak siswa yang berpendapat bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit, sehingga sebagian besar siswa kurang menyenangi pelajaran Matematika, sehingga minat belajar mereka rendah, sehingga hasil belajar yang diinginkan kadang tidak tercapai.
2. Pelajaran Matematika identik dengan kegiatan hitung-menghitung yang menurut sebagian siswa membuat pusing.
3. Adanya keterbatasan media membuat guru kesulitan menerangkan materi tertentu dalam pembelajaran Matematika.
Karena adanya faktor yang menghambat pencapaian hasil belajar dilihat membuat prestasi belajar yang diukur dengan analisis hasil evaluasi pada materi pengurangan dengan meminjam menunjukan dari 100% siswa yang ada di kelas dengan nilai kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) ditingkat satuan pendidikan adalah 6,0 sejumlah 30% siswa atau sekitar sepertiga dari jumlah siswa tidak mencapai KKM tersebut.
Dengan diadakan penelitian ditentukan bahwa siswa kurang memahami materi karena siswa berpatokan kepada apa yang dijelaskan guru saja tanpa mempunyai pemikiran yang inovatif. Dengan adanya beberapa hal yang kadang menjadi penghambat dalam kelancaran proses pembelajaran matematika diatas, maka kami berusaha membuat kondisi dan pola pikir siswa kelas II SD N 2 Lengkong, khususnya dalam membelajaran Matematika pada materi pengurangan dengan meminjam, dengan menerapkan metode drill yaitu suatu metode pembelajaran dengan memberikan latihan-latihan soal secara berulang-ulang.
Adanya perubahan ini diharapkan membuat proses pembelajaran Matematika berjalan secara aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang dapat diidentifikasikan dari peningkatan hasil evaluasi yang dilakukan.
Oleh sebab itu dalam penelitian tindakan kelas, penulis mengambil judul : ”Penggunaan Metode Drill untuk Meningkatkan Membelajaran Matematika pada Konsep Pengurangan dengan Meminjam di Kelas II SD N 2 Lengkong”
Indentifikasi Masalah
Pemahaman konsep Matematika merupakan produk dan proses Matematika. Keberhasilan proses Matematika dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pemahaman guru terhadap materi, tersedianya materi pelajaran dan alat peraga, etos kerja guru, pemanfaatan sumber belajar dan kemampuan guru dalam proses pengajaran juga dipengaruhi oleh kesiapan dan kemampuan siswa yang mana masing-masing siswa memiliki keterampilan yang berbeda-beda, oleh karena itu guru ditutut untuk dapat memilih dan menggunakan metode yang cocok dan sesuai, juga berusaha menghilangkan anggapan siswa bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Berganti menjadi pelajaran Matematika yang mudah dan menyenangkan.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa dengan metode drill dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep Matematika.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan dalam penelitian ini adalah ”Apakah, dengan menggunakan metode drill dapat meningkatkan pelajaran Matematika di kelas II SD ?”
Tujuan Masalah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan menggunakan ketode drill dapat meningkatkan pembelajaran Matematika di kelas II SD.
Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagi peneliti, dapat untuk dijadikan bekal untuk dapat ditukar kepada rekan guru SD yang lain sebagai pengetahuan yang diharapkan dapat bermanfaat nantinya.
b. Bagi guru, dapat memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan pembelajaran seperti apa yang diharapkan.
c. Bagi siswa, dapat membuat siswa lebih tertarik dan antusias dalam belajar Matematika karena adanya perubahan pemikiran tentang pelajaran Matematika yang sebelumnya merupakan hal yang kurang disukai menjadi pelajaran yang disukai.
d. Bagi sekolah, dengan adanya kegiatan yang dilakukan serta hasil yang diberikan membawa dampak positif terhadap perkembangan sekolah yang nampak pada peningkatan hasil belajar sehingga dapat tercapainya ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan oleh sekolah, yaitu peningkatan prestasi siswa, dengan meningkatkan keberhasilan siswa berarti meningkatkan mutu bagi sekolah tersebut.
KAJIAN PUSTAKA
Analisis Teoritis
1. Karakteristik siswa SD kelas II dalam belajar Matematika :
1) Ciri–ciri anak usia kelas II SD
Siswa kelas IV SD adalah siswa yang duduk dibangku kelas II SD yang rata-rata umurnya 7 tahun.
2) Perkembangan jiwa anak kelas II SD
Anak usia 7 tahun atau anak–anak kelas II SD adalah suka bermain, terutama bermain benda–benda disekitarnya.
3) Menurut piaget anak–anak rata-rata usia 7 tahun termasuk usia operasional konkrit (umur 7-12 tahun). Pada masa ini perkembangan anak kelas II SD adalah rasa ingin tahu dan pada masa ini sudah dapat melakukan tugas-tugas konkret.
Meningat perkembangan anak kelas II seperti diatas yaitu motivasi belajar sangat tinggi karena ingin tahunya. Untuk itu guru harus bisa memilih metode yang tepat, sangatlah tepat bila guru menggunakan metode drill dalam pembelajaran Matematika di kelas II SD, sehingga belajar siswa tidak jenuh.
2. Pengertian Metode Drill
Metode yaitu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam pengetahuan), atau cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran drill yaitu melatih kecakapan, ketangkasan, dan sebagainya dengan cara mengulang-ulang.
Jadi metode drill artinya cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud dalam ilmu pengetahuan tertentu untuk melatih kecakapan, ketangksan dan sebagainya dengan cara mengulang–ulang.
3. Pengertian belajar dan hasil belajar
Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari perubahan tidak tahu menjadi tahu dari tidak paham menjadi paham. Dalam belajar muncul adanya keterkaitan antara unsur yang satu dengan yang lain untuk menunjang keberhasilan dalam belajar, belajar dikatakan berhasil jika dengan usahanya sendiri dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi, sehingga mengakibatkan perubahan tingkah laku.
Dan hasil belajar merupakan sesuatu yang didapat dari pada kegiatan belajar yang nampak setelah kegiatan itu dilakukan dan dapat diukur dengan nilai dan tolak ukur yang lain, adanya penetapan kriteria berhasil atau tidaknya pembelajaran membuat adanya usaha untuk mencapai hasil belajar yang maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan.
Pengertian yang Relevan
Tugas guru antara lain memahami dengan baik materi yang akan diajarkan, memahami dan memanfatkan dengan baik cara peserta didik belajar Matematika untuk pembelajaran yang dilaksanakan, memahami cara mengajarkan Matematika yang efektif dan menggunakan cara-cara mengajar Matematika. Siswa melakukan belajar untuk memperoleh konsep dan infomasi baru tentang Matematika. Untuk itu sebelum dibahas lebih lanjut tentang pengajaran Matematika di kelas II SD akan dikemukakan lebih dahulu definisi belajar, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang dalam situasi itu.
Mengingat pada umumnya, prestasi belajar Matematika rendah, karena adanya berbagai kesulitan dalam belajar Matematika, untuk itu guru harus memahami kesulitan-kesulitan dalam Matematika sehingga bisa memilih metode yang tepat.
Bahwa untuk memperoleh dan memahami konsep Matematika SD perlu diusahakan suatu cara yang memberi kemungkinan kepada siswa untuk menguasai pelajaran, salah satu diantaranya dengan menggunakan metode driil.
Kerangka Pemikiran
Dalam pembelajaran siswa mengalami dan melakukan belajar pada pembelajaran Matematika siswa belajar untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan symbol-symbol ketajaman penalaran yang dapat memperjelaskan dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dalam aktifitas belajar tersebut akan menghasilkan perubahan yang bersifat kualitatif.
Kualitas tersebut sangat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang dilakukan guru. Dalam pembelajaran Matematika anak akan memahami konsep dengan baik bila anak sudah merasa tertarik dan berminal untuk belajar Matematika. Selain itu agar hasil belajar lebih bermakna dan memuaskan dalam hal ini menggunakan salah satu metode yang mengaktifkan siswa untuk berpikir lewat metode drill dan menemukan konsep sendiri maupun dibimbing guru.
Hipotesis
Berdasarkan analisis teoritis, beberapa hasil penelitian yang relevan dan kerangka pemikiran seperti diungkapkan diatas, maka dalam penelitian ini dapat diajukan rumusan hipotesa yang berbunyi ”Penggunaan Metode Drill untuk Meningkatkan pembelajaran Matematika pada Konsep Pengurangan dengan Meminjam di Kelas II SD N 2 Lengkong Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo”
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas classroom actions research, dengan penjelasan sebagai berikut :
1) Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD N 2 Lengkong
2) Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2009
3) Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah kelas II SD N 2 Lengkong
4) Teknik Pengumpulan data
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui :
a. Lembar observasi kinerja siswa dalam melakukan penelitian data ini ditentukan berdasarkan skala penilaian (amat kurang sampai dengan amat baik).
b. Laporan tertulis dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siswa akan dinilai dengan rentang skor 0-100
c. Angket sikap siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode drill.
b. Perencanaan Tindakan
Langkah-langkah yang dilaksanakan pada tahap ini adalah
1. Merancang pembelajaran dengan menggunakan metode driil
2. Menyusun alat test penjajagan sebagai evaluasi awal
3. Membuat lembar kegiatan siswa
4. Membuat instrumen observasi siswa dalam penelitian dan kinerja guru dalam proses pembelajaran.
5. Membuat lembar evaluasi untuk menilai laporan hasil penelitian siswa
6. Menyusun soal evaluasi hasil belajar
7. Membuat angket sikap siswa terhadap pembelajaran Matematika menggunakan metode drill.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini yaitu guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dibuat.
d. Observasi
Mengamati pelaksanaan pembelajaran atau mengobservasi dilakukan saat pelaksanaan pembelajaran dan diskusi prestasi hasil penelitian oleh siswa.
e. Refleksi
Peneliti melakukan pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan
2. Kendala atau kesulitan yang dialami
3. Kemajuan yang telah dicapai siswa
4. Rencana pembelajaran selanjutnya
f. Jadwal Penelitian
Terlampir
DAFTAR PUSTAKA
Wardhani, I.G.A.K, dkk, 2008. Penelitian Tindakan Kelas, Pusat Penerbit Universitas Terbuka : Jakarta
Mustoha. Amin, dkk, 2009. Senang Matematika, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sudah berkembang pesat pada saat sekarang ini, baik materi maupun kegunaannya. Dengan menguasai pengetahuan Matematika khususnya siswa di sekolah, memungkinkan siswa akan lebih mudah dalam menerima pengetahuan ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang semakin pesat, baik langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan. Oleh karena itu mutu pendidikan harus ditingkatkan terutama ilmu ”berhitung” atau ”Matematika”, peranan Matematika dalam kehidupan telah membawa kehidupan manusia ke zaman teknologi modern.
Begitu pentingnya peranan Matematika terhadap masa depan bangsa, maka pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan mutu pelajaran Matematika dengan berbagai upaya misalnya dengan pemberian alat peraga, buku paket, olympiade Matematika, serta penyempurnaan kurikulum, siswa atau anak didik sebagai individu yang potensial tidak dapat berkembang banyak tanpa bantuan sebagai pembimbing berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan maka perlu adanya perbaikan, pembaharuan, serta perubahan dalam segala aspek diantaranya kurikulum, sarana dan prasarana, guru, siswa serta metode pengajaran.
Pembelajaran Matematika di SD N 2 Lengkong khususnya di kelas II, sering mengalami hambatan dan kesulitan terutama dalam pencapaian hasil belajar yang diharapkan, hal itu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Banyak siswa yang berpendapat bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit, sehingga sebagian besar siswa kurang menyenangi pelajaran Matematika, sehingga minat belajar mereka rendah, sehingga hasil belajar yang diinginkan kadang tidak tercapai.
2. Pelajaran Matematika identik dengan kegiatan hitung-menghitung yang menurut sebagian siswa membuat pusing.
3. Adanya keterbatasan media membuat guru kesulitan menerangkan materi tertentu dalam pembelajaran Matematika.
Karena adanya faktor yang menghambat pencapaian hasil belajar dilihat membuat prestasi belajar yang diukur dengan analisis hasil evaluasi pada materi pengurangan dengan meminjam menunjukan dari 100% siswa yang ada di kelas dengan nilai kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) ditingkat satuan pendidikan adalah 6,0 sejumlah 30% siswa atau sekitar sepertiga dari jumlah siswa tidak mencapai KKM tersebut.
Dengan diadakan penelitian ditentukan bahwa siswa kurang memahami materi karena siswa berpatokan kepada apa yang dijelaskan guru saja tanpa mempunyai pemikiran yang inovatif. Dengan adanya beberapa hal yang kadang menjadi penghambat dalam kelancaran proses pembelajaran matematika diatas, maka kami berusaha membuat kondisi dan pola pikir siswa kelas II SD N 2 Lengkong, khususnya dalam membelajaran Matematika pada materi pengurangan dengan meminjam, dengan menerapkan metode drill yaitu suatu metode pembelajaran dengan memberikan latihan-latihan soal secara berulang-ulang.
Adanya perubahan ini diharapkan membuat proses pembelajaran Matematika berjalan secara aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang dapat diidentifikasikan dari peningkatan hasil evaluasi yang dilakukan.
Oleh sebab itu dalam penelitian tindakan kelas, penulis mengambil judul : ”Penggunaan Metode Drill untuk Meningkatkan Membelajaran Matematika pada Konsep Pengurangan dengan Meminjam di Kelas II SD N 2 Lengkong”
Indentifikasi Masalah
Pemahaman konsep Matematika merupakan produk dan proses Matematika. Keberhasilan proses Matematika dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pemahaman guru terhadap materi, tersedianya materi pelajaran dan alat peraga, etos kerja guru, pemanfaatan sumber belajar dan kemampuan guru dalam proses pengajaran juga dipengaruhi oleh kesiapan dan kemampuan siswa yang mana masing-masing siswa memiliki keterampilan yang berbeda-beda, oleh karena itu guru ditutut untuk dapat memilih dan menggunakan metode yang cocok dan sesuai, juga berusaha menghilangkan anggapan siswa bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Berganti menjadi pelajaran Matematika yang mudah dan menyenangkan.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa dengan metode drill dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep Matematika.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan dalam penelitian ini adalah ”Apakah, dengan menggunakan metode drill dapat meningkatkan pelajaran Matematika di kelas II SD ?”
Tujuan Masalah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan menggunakan ketode drill dapat meningkatkan pembelajaran Matematika di kelas II SD.
Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagi peneliti, dapat untuk dijadikan bekal untuk dapat ditukar kepada rekan guru SD yang lain sebagai pengetahuan yang diharapkan dapat bermanfaat nantinya.
b. Bagi guru, dapat memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan pembelajaran seperti apa yang diharapkan.
c. Bagi siswa, dapat membuat siswa lebih tertarik dan antusias dalam belajar Matematika karena adanya perubahan pemikiran tentang pelajaran Matematika yang sebelumnya merupakan hal yang kurang disukai menjadi pelajaran yang disukai.
d. Bagi sekolah, dengan adanya kegiatan yang dilakukan serta hasil yang diberikan membawa dampak positif terhadap perkembangan sekolah yang nampak pada peningkatan hasil belajar sehingga dapat tercapainya ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan oleh sekolah, yaitu peningkatan prestasi siswa, dengan meningkatkan keberhasilan siswa berarti meningkatkan mutu bagi sekolah tersebut.
KAJIAN PUSTAKA
Analisis Teoritis
1. Karakteristik siswa SD kelas II dalam belajar Matematika :
1) Ciri–ciri anak usia kelas II SD
Siswa kelas IV SD adalah siswa yang duduk dibangku kelas II SD yang rata-rata umurnya 7 tahun.
2) Perkembangan jiwa anak kelas II SD
Anak usia 7 tahun atau anak–anak kelas II SD adalah suka bermain, terutama bermain benda–benda disekitarnya.
3) Menurut piaget anak–anak rata-rata usia 7 tahun termasuk usia operasional konkrit (umur 7-12 tahun). Pada masa ini perkembangan anak kelas II SD adalah rasa ingin tahu dan pada masa ini sudah dapat melakukan tugas-tugas konkret.
Meningat perkembangan anak kelas II seperti diatas yaitu motivasi belajar sangat tinggi karena ingin tahunya. Untuk itu guru harus bisa memilih metode yang tepat, sangatlah tepat bila guru menggunakan metode drill dalam pembelajaran Matematika di kelas II SD, sehingga belajar siswa tidak jenuh.
2. Pengertian Metode Drill
Metode yaitu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam pengetahuan), atau cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran drill yaitu melatih kecakapan, ketangkasan, dan sebagainya dengan cara mengulang-ulang.
Jadi metode drill artinya cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud dalam ilmu pengetahuan tertentu untuk melatih kecakapan, ketangksan dan sebagainya dengan cara mengulang–ulang.
3. Pengertian belajar dan hasil belajar
Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari perubahan tidak tahu menjadi tahu dari tidak paham menjadi paham. Dalam belajar muncul adanya keterkaitan antara unsur yang satu dengan yang lain untuk menunjang keberhasilan dalam belajar, belajar dikatakan berhasil jika dengan usahanya sendiri dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi, sehingga mengakibatkan perubahan tingkah laku.
Dan hasil belajar merupakan sesuatu yang didapat dari pada kegiatan belajar yang nampak setelah kegiatan itu dilakukan dan dapat diukur dengan nilai dan tolak ukur yang lain, adanya penetapan kriteria berhasil atau tidaknya pembelajaran membuat adanya usaha untuk mencapai hasil belajar yang maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan.
Pengertian yang Relevan
Tugas guru antara lain memahami dengan baik materi yang akan diajarkan, memahami dan memanfatkan dengan baik cara peserta didik belajar Matematika untuk pembelajaran yang dilaksanakan, memahami cara mengajarkan Matematika yang efektif dan menggunakan cara-cara mengajar Matematika. Siswa melakukan belajar untuk memperoleh konsep dan infomasi baru tentang Matematika. Untuk itu sebelum dibahas lebih lanjut tentang pengajaran Matematika di kelas II SD akan dikemukakan lebih dahulu definisi belajar, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang dalam situasi itu.
Mengingat pada umumnya, prestasi belajar Matematika rendah, karena adanya berbagai kesulitan dalam belajar Matematika, untuk itu guru harus memahami kesulitan-kesulitan dalam Matematika sehingga bisa memilih metode yang tepat.
Bahwa untuk memperoleh dan memahami konsep Matematika SD perlu diusahakan suatu cara yang memberi kemungkinan kepada siswa untuk menguasai pelajaran, salah satu diantaranya dengan menggunakan metode driil.
Kerangka Pemikiran
Dalam pembelajaran siswa mengalami dan melakukan belajar pada pembelajaran Matematika siswa belajar untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan symbol-symbol ketajaman penalaran yang dapat memperjelaskan dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dalam aktifitas belajar tersebut akan menghasilkan perubahan yang bersifat kualitatif.
Kualitas tersebut sangat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang dilakukan guru. Dalam pembelajaran Matematika anak akan memahami konsep dengan baik bila anak sudah merasa tertarik dan berminal untuk belajar Matematika. Selain itu agar hasil belajar lebih bermakna dan memuaskan dalam hal ini menggunakan salah satu metode yang mengaktifkan siswa untuk berpikir lewat metode drill dan menemukan konsep sendiri maupun dibimbing guru.
Hipotesis
Berdasarkan analisis teoritis, beberapa hasil penelitian yang relevan dan kerangka pemikiran seperti diungkapkan diatas, maka dalam penelitian ini dapat diajukan rumusan hipotesa yang berbunyi ”Penggunaan Metode Drill untuk Meningkatkan pembelajaran Matematika pada Konsep Pengurangan dengan Meminjam di Kelas II SD N 2 Lengkong Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo”
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas classroom actions research, dengan penjelasan sebagai berikut :
1) Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD N 2 Lengkong
2) Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2009
3) Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah kelas II SD N 2 Lengkong
4) Teknik Pengumpulan data
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui :
a. Lembar observasi kinerja siswa dalam melakukan penelitian data ini ditentukan berdasarkan skala penilaian (amat kurang sampai dengan amat baik).
b. Laporan tertulis dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siswa akan dinilai dengan rentang skor 0-100
c. Angket sikap siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode drill.
b. Perencanaan Tindakan
Langkah-langkah yang dilaksanakan pada tahap ini adalah
1. Merancang pembelajaran dengan menggunakan metode driil
2. Menyusun alat test penjajagan sebagai evaluasi awal
3. Membuat lembar kegiatan siswa
4. Membuat instrumen observasi siswa dalam penelitian dan kinerja guru dalam proses pembelajaran.
5. Membuat lembar evaluasi untuk menilai laporan hasil penelitian siswa
6. Menyusun soal evaluasi hasil belajar
7. Membuat angket sikap siswa terhadap pembelajaran Matematika menggunakan metode drill.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini yaitu guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dibuat.
d. Observasi
Mengamati pelaksanaan pembelajaran atau mengobservasi dilakukan saat pelaksanaan pembelajaran dan diskusi prestasi hasil penelitian oleh siswa.
e. Refleksi
Peneliti melakukan pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan
2. Kendala atau kesulitan yang dialami
3. Kemajuan yang telah dicapai siswa
4. Rencana pembelajaran selanjutnya
f. Jadwal Penelitian
Terlampir
DAFTAR PUSTAKA
Wardhani, I.G.A.K, dkk, 2008. Penelitian Tindakan Kelas, Pusat Penerbit Universitas Terbuka : Jakarta
Mustoha. Amin, dkk, 2009. Senang Matematika, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia
Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia
Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi Tahun 2002 dan 2004
Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi Tahun 2002 dan 2004.
Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, materi pelajaran, dan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36), khususnya dalam mata
Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, materi pelajaran, dan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36), khususnya dalam mata
Jumat, 06 November 2009
Menyajikan Presentasi yang Baik dan Benar
Menyajikan Presentasi yang Baik dan Benar.
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa presentasi dengan mempergunakan Powerpoint telah menjadi standar dan banyak di pakai dimana-mana. Entah itu di instansi pemerintahan, universitas ataupun di sekolah-sekolah.
Nah, berikut ini adalah beberapa tips membuat presentasi Powerpoint yang baik dan benar sehingga presentasi anda nantinya bakal disukai dan diberi
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa presentasi dengan mempergunakan Powerpoint telah menjadi standar dan banyak di pakai dimana-mana. Entah itu di instansi pemerintahan, universitas ataupun di sekolah-sekolah.
Nah, berikut ini adalah beberapa tips membuat presentasi Powerpoint yang baik dan benar sehingga presentasi anda nantinya bakal disukai dan diberi
Penelitian : PENGARUH RUANG KELAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS 2 WONOSOBO
In English Version Clik Here
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Era globalisasi dunia saat ini mempengaruhi semua aspek bidang kehidupan baik di bidang ekonomi, sosial maupun budaya. Tidak terkecuali bidang pendidikan Indonesia saat ini. Upaya peningkatan telah ditempuh melalui berbagai jalur. Mulai dari nilai standar kelulusan Ujian Nasional, pemberian gelar terhadap sekolah berprestasi juga dengan peningkatan mutu guru itu sendiri.
Akan tetapi, dari semua cara untuk meningkatan pendidikan itu sendiri, ada hal kecil yang mungkin tidak disadari yang berperan dalam proses peningkatan prestasi belajar siswa yang nantinya akan berpengaruh juga pada peningkatan prestasi pendidikan di Indonesia.
Hal kecil itu adalah “Ruang Kelas” , ruang kelas ini merupakan tempat dimana para siswa menyerap ilmu yang didapat. Ruang kelas itu sendiri merupakan rumah kedua bagi seorang siswa dalam belajar.
Tidak menutup kemungkinan jika ruang kelas itu nyaman, indah, bersih dan kondusif dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar siswa. Seperti kata pepatah “Place is heart” (tempat adalah hati). Jadi tempat itu berpengaruh besar pada kondisi seseorang dalam mengkondisikan dirinya ditempa ia berada. Seorang siswa yang belajar dalam ruang kelas yang bersih, nyaman, indah dan kondusif cenderung memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Ruang kelas itu dijadikan sebagai tempat yang paling menyenangkan dalam belajar sehingga prestasi itu pun dapat diraih dengan mudah. Namun sebaliknya jika ruangan kelas kotor dan gaduh, tentunya proses kegiatan belajar mengajar akan terhambat sehingga presasi siswa menurun.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh ruang kelas terhadap peningkatan motivasi dan semangat belajar siswa SMA 2 Wonosobo ?
2. Bagaimana cara menciptakan suasana kelas yang kondusif agar tercipta prestasi belajar yang baik ?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk menyimpulkan permasalahan dengan metode kualitatif. Tujuan penelitian ini antara lain :
1. Untuk mengetahui apakah ruangan kelas berpengaruh pada peningkatan motivasi belajar siswa.
2. Untuk megetahui kondusifnya ruang kelas untuk peningkatan prestasi sekolah SMA 2 Wonosobo.
3. Untuk mengetahui cara meningkatkan prestasi siswa SMA 2 Wonosobo untuk peningkatan mutu sekolah.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Bagi Pembaca
Dengan mengetahui pengaruh ruang kelas terhadap prestasi belajar siswa, maka diharapkan dapat dipakai sebagai bahan acuan untuk menyelesaikan cara belajar sehingga diperoleh prestasi yang bagus.
2. Bagi Penulis
Diharapkan agar dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan kemampuan keterampilan meneliti serta pengetahuan yang lebih mendalam terutama pada permasalahan yang diangkat.
PEMBAHASAN MASALAH
Ruang kelas merupakan tempat yang cukup berpengaruh dalam peningkatan motivasi dan semangat belajar siswa. Ruang kelas yang nyaman tidak hanya dilihat dari bentuk bangunan tetapi juga sikap bagaiaman penghuni kelas itu memanfaatkannya.
Berikut akan dijelaskan arti kata satu demi satu sehingga disusun menjadi keseluruhan judul yang membentuk simpulan dari permasalahan penelitian ini. Pengaruh adalah Daya yang timbul dari sesuatu larangan benda yang ikut membentuk cetak, kepercayaan dan perbuatan seseorang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005 : 849). Ruang adalah Sela-sela antara dua (deret) tiang / sela-sela antara empat tiang (1964). Kelas adalah Ruangan tempat belajar di sekolah (530). Terhadap adalah Kata depan untuk menandai arah, kepada lawan (380). Prestasi adalah Hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya (895). Belajar adalah Berlatih supaya mendapat suatu kepandaian. Siswa Berlatih supaya mendapat suatu kepandaian. Sekolah adalah Bangunan / lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran (889). Menengah adalah Pergi ke tengah, sedangkan tidak besar dan tidak terlalu kecil (1172). Atas adalah Bagian tempat yang tertinggi tingkat tinggi. Dua Bilangan yang lebih tinggi, tingat tinggi. Wonosobo diambil dari kata Wono : hutan dan sobo : banyak dikunjungi, jadi Wonosobo adalah kawasaan hutan yang banyak dikunjungi.
Kesimpulan
Suatu ruangan kelas bisa berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Kondisi kelas yang kurang kondusif bisa menyebabkan menurunnya tingkat konsentrasi siswa dalam mengikuti proses belajar siswa, namun sebaliknya kondisi kelas yang mendukung serta kondusif memberikan kesan yang berbeda bagi para penggunannya, terutama para siswa. Dengan ruangan kelas yang nyaman, tenang dan menyenangkan para siswa akan lebih nyaman dengan proses KBM, tentunya hal ini akan mendukung kemajuan prestasi dalam sekolah.
Saran
Ruangan kelas yang baik dan kondusif tidak hanya dilihat dari ruangan kelas saja, tergantung juga kondisi para siswa. Kedua faktor itu sangat berpengaruh untuk proses kemajuan proses belajar mengajar untuk itu kita harus menjaga dan memelihara kondisi dan situasi kelas agar tercipta suasana kelas yang kondusif dan bermanfaat besar bagi penggunanya terutama siswa itu sendiri.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Era globalisasi dunia saat ini mempengaruhi semua aspek bidang kehidupan baik di bidang ekonomi, sosial maupun budaya. Tidak terkecuali bidang pendidikan Indonesia saat ini. Upaya peningkatan telah ditempuh melalui berbagai jalur. Mulai dari nilai standar kelulusan Ujian Nasional, pemberian gelar terhadap sekolah berprestasi juga dengan peningkatan mutu guru itu sendiri.
Akan tetapi, dari semua cara untuk meningkatan pendidikan itu sendiri, ada hal kecil yang mungkin tidak disadari yang berperan dalam proses peningkatan prestasi belajar siswa yang nantinya akan berpengaruh juga pada peningkatan prestasi pendidikan di Indonesia.
Hal kecil itu adalah “Ruang Kelas” , ruang kelas ini merupakan tempat dimana para siswa menyerap ilmu yang didapat. Ruang kelas itu sendiri merupakan rumah kedua bagi seorang siswa dalam belajar.
Tidak menutup kemungkinan jika ruang kelas itu nyaman, indah, bersih dan kondusif dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar siswa. Seperti kata pepatah “Place is heart” (tempat adalah hati). Jadi tempat itu berpengaruh besar pada kondisi seseorang dalam mengkondisikan dirinya ditempa ia berada. Seorang siswa yang belajar dalam ruang kelas yang bersih, nyaman, indah dan kondusif cenderung memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Ruang kelas itu dijadikan sebagai tempat yang paling menyenangkan dalam belajar sehingga prestasi itu pun dapat diraih dengan mudah. Namun sebaliknya jika ruangan kelas kotor dan gaduh, tentunya proses kegiatan belajar mengajar akan terhambat sehingga presasi siswa menurun.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh ruang kelas terhadap peningkatan motivasi dan semangat belajar siswa SMA 2 Wonosobo ?
2. Bagaimana cara menciptakan suasana kelas yang kondusif agar tercipta prestasi belajar yang baik ?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk menyimpulkan permasalahan dengan metode kualitatif. Tujuan penelitian ini antara lain :
1. Untuk mengetahui apakah ruangan kelas berpengaruh pada peningkatan motivasi belajar siswa.
2. Untuk megetahui kondusifnya ruang kelas untuk peningkatan prestasi sekolah SMA 2 Wonosobo.
3. Untuk mengetahui cara meningkatkan prestasi siswa SMA 2 Wonosobo untuk peningkatan mutu sekolah.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Bagi Pembaca
Dengan mengetahui pengaruh ruang kelas terhadap prestasi belajar siswa, maka diharapkan dapat dipakai sebagai bahan acuan untuk menyelesaikan cara belajar sehingga diperoleh prestasi yang bagus.
2. Bagi Penulis
Diharapkan agar dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan kemampuan keterampilan meneliti serta pengetahuan yang lebih mendalam terutama pada permasalahan yang diangkat.
PEMBAHASAN MASALAH
Ruang kelas merupakan tempat yang cukup berpengaruh dalam peningkatan motivasi dan semangat belajar siswa. Ruang kelas yang nyaman tidak hanya dilihat dari bentuk bangunan tetapi juga sikap bagaiaman penghuni kelas itu memanfaatkannya.
Berikut akan dijelaskan arti kata satu demi satu sehingga disusun menjadi keseluruhan judul yang membentuk simpulan dari permasalahan penelitian ini. Pengaruh adalah Daya yang timbul dari sesuatu larangan benda yang ikut membentuk cetak, kepercayaan dan perbuatan seseorang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005 : 849). Ruang adalah Sela-sela antara dua (deret) tiang / sela-sela antara empat tiang (1964). Kelas adalah Ruangan tempat belajar di sekolah (530). Terhadap adalah Kata depan untuk menandai arah, kepada lawan (380). Prestasi adalah Hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya (895). Belajar adalah Berlatih supaya mendapat suatu kepandaian. Siswa Berlatih supaya mendapat suatu kepandaian. Sekolah adalah Bangunan / lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran (889). Menengah adalah Pergi ke tengah, sedangkan tidak besar dan tidak terlalu kecil (1172). Atas adalah Bagian tempat yang tertinggi tingkat tinggi. Dua Bilangan yang lebih tinggi, tingat tinggi. Wonosobo diambil dari kata Wono : hutan dan sobo : banyak dikunjungi, jadi Wonosobo adalah kawasaan hutan yang banyak dikunjungi.
Kesimpulan
Suatu ruangan kelas bisa berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Kondisi kelas yang kurang kondusif bisa menyebabkan menurunnya tingkat konsentrasi siswa dalam mengikuti proses belajar siswa, namun sebaliknya kondisi kelas yang mendukung serta kondusif memberikan kesan yang berbeda bagi para penggunannya, terutama para siswa. Dengan ruangan kelas yang nyaman, tenang dan menyenangkan para siswa akan lebih nyaman dengan proses KBM, tentunya hal ini akan mendukung kemajuan prestasi dalam sekolah.
Saran
Ruangan kelas yang baik dan kondusif tidak hanya dilihat dari ruangan kelas saja, tergantung juga kondisi para siswa. Kedua faktor itu sangat berpengaruh untuk proses kemajuan proses belajar mengajar untuk itu kita harus menjaga dan memelihara kondisi dan situasi kelas agar tercipta suasana kelas yang kondusif dan bermanfaat besar bagi penggunanya terutama siswa itu sendiri.
Kamis, 05 November 2009
PHILOSOFI, SUBSTANSI, DAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DI RUANG PENDIDIK INS KAYUTANAM SUMATERA BARAT
22:28:48 12/03/2007 | 1366 pembaca
OLEH : ACHJAR CHALIL, S.Pd
Ketua Umum Agupena Pusat
I. Latar Sejarah
A. Era Penjajahan
Dalam konteks pendidikan modern di Indonesia, sejarah pendidikan dapat ditelusuri dari Politik Etis atau Politik Balas Budi. Ini adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini
OLEH : ACHJAR CHALIL, S.Pd
Ketua Umum Agupena Pusat
I. Latar Sejarah
A. Era Penjajahan
Dalam konteks pendidikan modern di Indonesia, sejarah pendidikan dapat ditelusuri dari Politik Etis atau Politik Balas Budi. Ini adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini
Sejarah Peradaban Romawi Kuno
Romawi ialah peradaban dunia yang letaknya terpusat di kota Roma masa kini. Peradaban Romawi dikembangkan Suku Latia yang menetap di lembah Sungai Tiber. Suku Latia menamakan tempat tinggal mereka ‘Latium’. Latium merupakan kawasan lembah pegunungan yang tanahnya baik untuk pertanian. Penduduk Latium kemudian disebut bangsa Latin. Pada mulanya, di daerah Latium inilah bangsa Latin hidup dan
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Reaktor nuklir di kungkung dalam containment building silindris. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah stasiun pembangkit listrik thermal di mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik. PLTN termasuk dalam pembangkit daya base load, yang dapat bekerja dengan baik ketika daya keluarannya konstan (
MAKALAH TENTANG KETAHANAN SOSIAL
MAKALAH TENTANG KETAHANAN SOSIAL.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Terbentuknya negara Indonesia dilatarbelakangi oleh perjuangan seluruh bangsa. Sudah sejak lama Indonesia menjadi incaran banyak negara atau bangsa lain, karena potensinya yang besar dilihat dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam yang banyak. Beberapa ancaman dalam dan luar negeri telah dapat diatasi bangsa Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Terbentuknya negara Indonesia dilatarbelakangi oleh perjuangan seluruh bangsa. Sudah sejak lama Indonesia menjadi incaran banyak negara atau bangsa lain, karena potensinya yang besar dilihat dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam yang banyak. Beberapa ancaman dalam dan luar negeri telah dapat diatasi bangsa Indonesia
STUDY KASUS PENERAPAN SISTEM INFORMASI DALAM DUNIA BISNIS
(Tugas pengembangan bisnis)
DISUSUN OLEH :
DANNY TRIWIDODO
08059221
KELAS SI - SP
S1 SISTEM INFORMASI
IBI DARMAJAYA
BANDAR LAMPUNG 2008 / 2009
Daftar Isi
SISTEM INFORMASI PENJUALAN DAN PENERIMAAN KAS PADA PERUSAHAAN ROKOK DJARUM…………………………………………………....1
PENERAPAN SISTEM INFORMASI PADA PERUSAHAAN PERBANKAN………2
PENERAPAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI BERBASIS KOMPUTER DALAM
DISUSUN OLEH :
DANNY TRIWIDODO
08059221
KELAS SI - SP
S1 SISTEM INFORMASI
IBI DARMAJAYA
BANDAR LAMPUNG 2008 / 2009
Daftar Isi
SISTEM INFORMASI PENJUALAN DAN PENERIMAAN KAS PADA PERUSAHAAN ROKOK DJARUM…………………………………………………....1
PENERAPAN SISTEM INFORMASI PADA PERUSAHAAN PERBANKAN………2
PENERAPAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI BERBASIS KOMPUTER DALAM